REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Musim mudik telah tiba. Ratusan ribu kendaraan keluar dari Ibu Kota atau pun kota-kota urban. Mereka menggunakan mobil pribadi, sepeda motor, kereta api, bus, hingga pesawat. Tujuannya adalah daerah kampung halaman masing-masing pemudik.
Mudik sebenarnya bukan fenomena minim risiko. Para pelakunya harus memiliki segenap persiapan dari tenaga, kendaraan hingga uang yang tidak sedikit. Banyak pengorbanan yang harus mereka lakukan demi merayakan Idul Fitri di kampung halaman.
Salah satu dorongan yang memicu warga untuk mudik tentu berkumpul bersama orang tua. Selepas pergi bertahun-tahun dirantau, tentunya tak ada yang lebih membahagiakan eyang, mbah, nambo, opa, dan oma untuk melihat anak-anak dan cucu mereka berkumpul. Sebuah kebahagiaan yang sulit ditakar dengan apapun.
Seorang Muslim memang diperintahkan — bukan sekadar diimbau — untuk berbakti kepada orang tuanya, bahkan meski ayah atau ibunya bukanlah pemeluk Islam. Alquran telah menggambarkan betapa payah ibu saat mengandung, melahirkan, hingga menyusui kita.
Selepas itu, kita masih dibesarkan juga dengan limpahan cinta. Begitu juga dengan ayah yang rela membanting tulang untuk menjalani profesi apapun demi menafkahi keluarga. Meski kadang hidup kekurangan, orang tua selalu mengutamakan anaknya.
Secara spesifik, tidak ada perintah dalam Alquran yang menyuruh kita untuk mudik ke kampung halaman. Hanya saja, banyak ayat Alquran yang kerap menggandeng perintah untuk menyembah Allah dengan berbuat baik kepada orang tua.




