Selasa 10 Mar 2026 20:53 WIB

Israel-Iran Saling Serang Fasilitas Minyak, Pengamat: Puncak Perang Belumlah Usai

Naiknya Ayatullah Mojtaba jadi tanda, Iran semakin kuat melawan tekanan AS-Israel.

Asap masih mengepul dari Kilang Minyak Shahran setelah serangan udara di Teheran, Iran, 8 Maret 2026.
Foto: EPA/ABEDIN TAHERKENAREH
Asap masih mengepul dari Kilang Minyak Shahran setelah serangan udara di Teheran, Iran, 8 Maret 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penunjukan Ayatullah Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran dinilai menjadi sinyal kuat bahwa Teheran semakin tidak akan tunduk pada tekanan Amerika Serikat (AS) maupun Israel. Pandangan itu disampaikan pakar Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI), Prof Yon Machmudi.

"Karena, tuntutan dari Trump dan Netanyahu bahwa setiap pemimpin baru (Iran) itu harus melibatkan AS. Jika tidak, maka akan jadi target pembunuhan berikutnya," ujar guru besar ilmu sejarah UI itu kepada Republika, Senin (10/3/2026).

Baca Juga

Di tengah eskalasi perang yang masih berlangsung, lanjut dia, kepemimpinan baru diperkirakan akan mempertegas sikap juang perlawanan Iran. Menurut Yon, tekanan yang datang dari Washington maupun Tel Aviv justru memperkuat resistensi di dalam negeri Iran.

“Ini bentuk perlawanan baru yang dilakukan Iran. Mereka tidak mau tunduk terhadap tuntutan dan keinginan Amerika Serikat maupun Israel,” kata dia.

Dalam situasi seperti sekarang, Yon memperkirakan konflik bersenjata antara Iran dan aliansi Israel-AS belum akan mereda dalam waktu dekat. Ia menilai, eskalasi konflik masih berada pada titik yang tinggi.

Serangan Israel ke sebuah kilang minyak milik Iran di Teheran pada Sabtu (7/3/2026) lalu, misalnya. Walaupun Presiden AS Donald Trump sempat kemudian menyuarakan "kekecewaan" atas aksi militer Tel Aviv itu, hal demikian menandakan masih tingginya tensi pertempuran.

Terbaru, Iran pun pada Selasa (9/3/2026) mengeklaim telah sukses melancarkan serangan balasan (retaliation) yang menarget kilang minyak milik Israel di Haifa dengan menggunakan drone canggihnya.

Yon menegaskan, serangan dari pihak mana pun terhadap sektor energi berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas bagi kawasan Asia Barat. Jalur distribusi energi global juga bisa terganggu apabila konflik terus berlanjut.

“Ini pasti akan berdampak secara regional. Suplai minyak bisa semakin berkurang atau bahkan terputus dari Selat Hormuz,” ujarnya.

Karena itu, Yon menilai peluang menuju perundingan damai saat ini masih jauh panggang dari api. Terlebih lagi, tidak ada tanda-tanda bahwa Iran akan menyerah. Sementara itu, AS dan Israel tetap berambisi melumpuhkan kekuatan Iran.

"Titik temu dalam hal menuju negosiasi tampaknya belum terbuka. Puncak perang ini, saya kira, masih sangat tinggi tensinya," kata dia.

"Perlawanan, retaliation, perang ini, saya kira, masih akan terus berlangsung dalam beberapa pekan ke depan. Karena, tidak ada tanda-tanda dari Iran akan menyerah, sementara AS dan Israel berambisi menghancurkan Iran," tukas Yon.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement