Sabtu 07 Mar 2026 13:50 WIB

Ketika Mimbar Berbicara kepada Luka

UBN memilih metafora yang dekat dengan keseharian masyarakat Aceh.

Ustaz Bachtiar Nasir (UBN).
Foto: Istimewa
Ustaz Bachtiar Nasir (UBN).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Angin dari laut masih terasa dingin ketika ribuan pasang kaki melangkah menuju Masjid At Taqarrub di Pidie Jaya, Aceh, Jumat (6/3/2026). Di luar, bekas banjir bandang belum sepenuhnya terhapus dari ingatan, dari dinding rumah, dari jalan-jalan yang masih menanggung endapan lumpur, dari wajah-wajah warga yang datang salat dengan membawa kesedihan yang belum tuntas. Namun di dalam masjid itu, suasana berubah. Ada ketenangan yang dicari, ada harapan yang hendak dijaga.

Hari itu, yang naik ke mimbar adalah Ustaz Bachtiar Nasir, atau akrab disapa UBN, Pemimpin Perkumpulan AQL sekaligus Ketua Umum DPP Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI). Kedatangannya ke Aceh bukan sekadar kunjungan biasa. Ia datang dalam rangka safari dakwah sekaligus menyalurkan bantuan kepada para penyintas banjir bandang yang masih bergulat dengan dampak bencana. Dan khotbah Jumat itu, di hadapan jemaah yang sebagian di antaranya adalah korban, menjadi momen yang melampaui ritual mingguan.

Baca Juga

UBN membuka khotbahnya dengan sebuah penegasan yang bukan baru, tetapi selalu terasa mendesak diulang: Ramadhan adalah bulan takwa, bukan sekadar bulan puasa.

"Ramadhan adalah bulan yang tujuan utamanya adalah takwa kepada Allah. Maka merugilah jika Ramadhan ini ketakwaan kita tidak tumbuh dan tidak berbuah," ujarnya, dengan suara yang terdengar seperti peringatan sekaligus undangan.

Ia mengingatkan sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa ada orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga. Sebuah gambaran yang keras, namun jujur: puasa yang tidak disertai perubahan sikap dan peningkatan kualitas ibadah adalah puasa yang kehilangan rohnya.

Untuk menjelaskan proses pembentukan ketakwaan, UBN memilih metafora yang dekat dengan keseharian masyarakat Aceh, pertanian. Ia menggambarkan jiwa manusia seperti sawah yang tertimbun lumpur banjir: keras, padat, dan tidak subur. Agar bisa kembali menghasilkan, tanah itu harus dicangkul, diolah, dan dialiri air dengan sabar dan tekun.

Ramadhan, katanya, adalah musim pengolahan itu.

Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah: "Ya ayyuhalladzina amanu kutiba 'alaikumus shiyam kama kutiba 'alalladzina min qablikum la'allakum tattaqun", bahwa puasa diwajibkan atas orang-orang beriman agar mereka menjadi orang yang bertakwa. Ibadah puasa di siang hari dan qiyam di malam hari yang dilakukan berulang selama sebulan penuh, menurut UBN, adalah bentuk pendidikan ilahiah, sebuah pelatihan rohani yang, bila dijalani dengan sungguh-sungguh, akan membentuk kebiasaan baik yang bertahan jauh melampaui Ramadhan itu sendiri.

Dari soal ketakwaan, UBN membawa jemaah menuju teladan yang paling agung: Rasulullah SAW. Ia mengingatkan bahwa Nabi Muhammad dikenal sebagai manusia paling dermawan, dan kedermawanan itu mencapai puncaknya justru di bulan Ramadhan, terutama setelah beliau melakukan tadarus Alquran bersama Malaikat Jibril.

"Kedermawanan Rasulullah pada Ramadhan digambarkan seperti angin yang berhembus lembut, cepat, dan menjangkau semua makhluk," ujar UBN.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement