Jumat 06 Mar 2026 08:31 WIB

Rentetan Drone Bunuh Diri Iran Hajar Kapal Induk Abraham Lincoln

Kapal induk itu harus mundur cepat dan berada pada jarak 1000 km dari Iran.

Kapal induk USS Abraham Lincoln saat berlayar di Selat Hormuz di dekat Iran pada 2019.
Foto: Dok US Navy
Kapal induk USS Abraham Lincoln saat berlayar di Selat Hormuz di dekat Iran pada 2019.

REPUBLIKA.CO.ID,TEHERAN — Kapal Induk USS Abraham Lincoln dilaporkan mendapatkan rentetan serangan pesawat nirawak (drone) Iran di Laut Oman, Kamis (5/3/2026). Dilansir dari Al Mayadeen, drone dari Angkatan Udara Iran tersebut menghantam kapal raksasa itu saat berada dalam radius 340 kilometer dari garis pantai Iran. 

Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya Iran mengonfirmasi kapal yang menjadi landasan jet tempur AS tersebut dihantam saat Washington mencoba mengganggu kendali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Selat Hormuz.

Baca Juga

Al Mayadeen melaporkan, hantaman rentetan drone bunuh diri Iran dilaporkan memicu kepanikan di atas dek USS Abraham Lincoln. Tak butuh waktu lama bagi kapal induk tersebut untuk memutar haluan. Didampingi oleh kapal-kapal perusak pengawalnya, armada tempur AS itu mundur cepat dan kini dilaporkan berada pada jarak lebih dari 1.000 kilometer dari wilayah operasional Iran.

"Persiapan operasional dan koordinasi antar-angkatan bersenjata kami telah mengubah persamaan perang ini," bunyi pernyataan resmi IRGC. Mereka menegaskan bahwa kapabilitas militer Iran jauh melampaui perkiraan intelijen Amerika Serikat maupun Israel.

photo
Drone Shahed-136 milik Iran yang digunakan menyerang Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk. - (Iran Observer)

Tentara AS kabur

Narasi yang dibangun Teheran kian menyudutkan Washington. IRGC mengklaim tengah memantau apa yang mereka sebut sebagai "pelarian pengecut" tentara Amerika dari pangkalan-pangkalan militer mereka menuju hotel-hotel di negara-negara tuan rumah.

Langkah AS yang menggunakan fasilitas sipil sebagai tempat perlindungan bagi personel militernya dianggap Iran sebagai taktik "perisai manusia". Meski demikian, Teheran memberikan peringatan keras: "Garda Revolusi sedang berbaring menunggu para penjajah. Kami tidak akan membiarkan mereka lolos," tegas Letkol Ebrahim Zolfaghari, juru bicara Khatam al-Anbiya.

 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi