REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— Mohammad Mokhber, asisten senior almarhum Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, menegaskan negaranya tidak berniat melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat.
"Kami dapat melanjutkan perang kapan pun kami mau,” kata dia dilansir televisi Iran pada Rabu (4/3/2026). "Kami sama sekali tidak mempercayai Amerika Serikat," kata dia.
Dia menyebut Amerika tidak bermaksud untuk menduduki Iran, melainkan untuk memecah belah negara itu, dan telah berupaya melakukannya sejak dimulainya revolusi Iran pada 1979.
"Kami dapat memperpanjang perang selama yang kami anggap perlu, karena kami telah bertindak dengan cara yang sama selama perang Irak yang berlangsung selama delapan tahun," dikutip Aljazeera, Rabu (4/3/2026).
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Presiden AS Donald Trump telah mengkhianati diplomasi dan rakyat Amerika yang memilihnya.
Araqchi menulis dalam sebuah postingan di platform X pada Rabu, "Ketika negosiasi nuklir yang rumit diperlakukan seperti transaksi riil estate, dan ketika fakta-fakta disembunyikan dengan kebohongan besar, mustahil untuk mencapai harapan yang tidak realistis."
Menteri Iran itu menyimpulkan dalam postingannya bahwa hasilnya adalah meledakkan meja perundingan karena kebencian, menurutnya.
#عاجل| ويتكوف: الإيرانيون قالوا لنا مباشرة ومن دون أي خجل إن لديهم 460 كيلوغراما من اليورانيوم المخصب بنسبة 60%
- المفاوضون الإيرانيون كانوا على دراية بأن ما لديهم من اليورانيوم المخصب يمكن أن يصنع 11 قنبلة نووية
- اليورانيوم المخصب بنسبة 60% يمكن رفعه إلى مستوى 90% خلال أسبوع أو… pic.twitter.com/Iw40oPEBhw
— قناة الجزيرة (@AJArabic) March 3, 2026