REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Masjid Istiqlal kini telah menapaki usianya yang ke-48 tahun. Masjid yang diresmikan Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978 ini pun memperingati peringatan hari kelahirannya dengan sederhana dengan melakukan pemotongan tumpeng.
Prosesi pemotongan tumpeng dipimpin langsung oleh Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof KH Nasaruddin Umar.
Usai pemotongan tumpeng, para pengurus Istiqlal dan ribuan jamaah pun Iftar atau berbuka puasa bersama ribuan jamaah.
"Semoga puasa Bapak-Ibu sekalian diterima dan pahalanya dilipatgandakan oleh Allah SWT. Mari kita merasa memiliki Masjid Istiqlal sebagai masjid kita bersama," ujar Nasaruddin di hadapan ribuan jamaah yang hadir.
Sementara itu, Direktur Istiqlal Global Fund (IGF) Ahsanul Haq atau akrab dipanggil Anol mengatakan, Milad Istiqlal kali terasa istimewa karena bertepatan dengan bulan suci Ramadhan.
"Ini menjadi momen istimewa bagi kami karena pada saat ini ulang tahun Masjid Istiqlal dilaksanakan di bulan Ramadan. Hari ini dihadiri sekitar 5.000 jamaah. Khusus di acara ini kita menyiapkan nasi kotak itu 5.000 jamaah," ucapnya.
Anol menjelaskan, peringatan milad ke-48 Masjid Istiqlal juga menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pengelola masjid, donatur, dan para penerima manfaat (mustahik).
“Kami ingin mengoptimalkan kehadiran seluruh marbot dan para pengabdi Masjid Istiqlal untuk hadir bersama merayakan dan meramaikan. Ini memang dikemas sederhana, bersamaan dengan buka puasa,” katanya.
Dalam peringatan Milad ke-48 Masjid Istiqlal, Badan Pengelola Masjid Istiqlal dan IGF mengemasnya dengan hiburan musik Islami, doa bersama, tausiyah, serta di akhiri buka bersama.
Menurut Anol, kegiatan tersebut bertujuan menyatukan berbagai elemen yang memberikan nilai tambah bagi Masjid Istiqlal, terutama para donatur dan penerima manfaat.
“Pertemuan hari ini mempertemukan para mustahik dengan muzakinya, para wakif dengan maukuf ‘alaih-nya,” jelasnya.
Selain dihadiri jamaah, kegiatan itu juga dihadiri para mitra IGF dari berbagai kalangan industri.
Anol menjelaskan, IGF secara konsisten membangun kemitraan dengan sektor korporasi untuk menghadirkan program-program pemberdayaan yang berdampak langsung bagi jamaah.
“Ini bagian dari mempertemukan para pemangku kepentingan yang kerap melakukan aksi-aksi korporasi di lingkungan Masjid Istiqlal, sehingga memberikan nilai tambah yang lebih luas,” ujarnya.
Salah satu program unggulan IGF adalah wakaf produktif yang tidak hanya dilaksanakan di lingkungan Masjid Istiqlal, tetapi juga di sejumlah masjid lain di Jakarta.
Bersama Rekso Group, IGF membina para marbot melalui Program Gerobak Wirausaha yang telah diberikan kepada sejumlah marbot masjid di Jakarta. Program tersebut disertai pelatihan dan pendampingan usaha.
“Awalnya mereka hidup dari masjid, sekarang sebagian sudah bisa menghidupi masjidnya. Mereka bisa berjualan sambil menunggu waktu shalat dan tetap mengurus kebersihan masjid,” jelas Anol.
Ia mencontohkan salah satu marbot binaan di Masjid Arief Rahman Hakim Universitas Indonesia Salemba yang berhasil meningkatkan kesejahteraan hingga mampu menunaikan ibadah umrah dari hasil usaha tersebut.
Program tersebut telah berjalan selama satu tahun dan akan terus dikembangkan. Ke depan IGF bersama perusahaan juga merancang program pembinaan bagi marbut yang tidak memiliki keluarga di Jakarta serta pemberdayaan bagi kelompok rentan yang membutuhkan dukungan khusus.
Selain itu, IGF bekerja sama dengan sejumlah perusahaan lain dalam pembinaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), termasuk pelatihan pengemasan produk. IGF juga menjajaki kolaborasi dengan sejumlah bank syariah nasional untuk memperkuat ekosistem pemberdayaan ekonomi umat.




