Rabu 25 Feb 2026 11:24 WIB

Masjid Biru, Kala Sultan Ahmet Membangunnya dengan Tangan Sendiri Bak Buruh Kasar

Masjid Sultanahmet menjadi simbol penting dari identitas sejarah Istanbul.

Rep: Muhyiddin/ Red: A.Syalaby Ichsan
Tentara menembakkan meriam untuk menandai berakhirnya puasa dan saatnya berbuka puasa di hari pertama Ramadhan di depan Masjid Sultanahmet (Biru) di Istanbul, Turki, (23/3/2023).
Foto: EPA-EFE/SEDAT SUNA
Tentara menembakkan meriam untuk menandai berakhirnya puasa dan saatnya berbuka puasa di hari pertama Ramadhan di depan Masjid Sultanahmet (Biru) di Istanbul, Turki, (23/3/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL — Masjid Sultanahmet di Istanbul, Turkiye dikenal dunia sebagai "Masjid Biru" karena interiornya dihiasi dengan ubin Iznik berwarna biru. Masjid ini selalu dipenuhi keluarga yang berkunjung sepanjang malam Ramadhan.

Ada sebuah pepatah di kalangan penduduk Istanbul lama: "Istanbul tidur di malam hari selama 11 bulan dalam setahun, tetapi selama Ramadhan, kota ini tetap terjaga dari sholat Maghrib hingga Subuh."

Baca Juga

Sebagai salah satu pencapaian paling terkemuka dalam arsitektur Turki Utsmani, Masjid Sultanahmet selama lebih dari empat abad terus berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai simbol penting dari identitas sejarah dan budaya Istanbul.

Menukil Dailysabah, Rabu (25/2/2206), bangunan megah ini dibangun oleh Sultan Ahmed I dengan menugaskan seorang arsitek bernama Sedefkar Mehmed Agha. Masjid yang pertama dalam arsitektur Ottoman dengan enam menaranya ini mulai dibangun pada 1609. Pembangunan masjid memakan waktu selama tujuh tahun lima bulan. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Blue Mosque TURKEY (@bluemosqueturkey)

Masjid Sultanahmet dianggap sebagai salah satu karya paling indah dari peradaban Turki-Islam, masjid ini secara resmi dibuka untuk peribadatan pada 9 Juni 1617.

Dengan halaman yang luas, kubah pusat, dan kubah setengah lingkaran, struktur ini menonjol baik dari segi estetika maupun teknik. Posisinya yang berhadapan dengan Hagia Sophia menciptakan keseimbangan arsitektur yang khas dalam cakrawala Istanbul.

Kompleks yang terdiri dari masjid, madrasah, sekolah dasar, paviliun kerajaan, dan arasta (pasar), berdiri sebagai contoh penting dari pendekatan perencanaan kota yang berpusat pada masjid pada era Ottoman.

Melalui struktur külliye ini, kehidupan keagamaan, pendidikan, dan interaksi sosial diorganisir di sekitar satu pusat kemasyarakatan. Saat ini, dengan jutaan pengunjung lokal dan internasional setiap tahunnya, Masjid Sultanahmet terus mempertahankan statusnya sebagai salah satu landmark bersejarah yang paling banyak dikunjungi di kota ini.

photo
Orang-orang menikmati waktu mereka di depan Masjid Sultanahmet pada hari bersalju di Istanbul, Turki, 18 Januari 2021. - (EPA-EFE/SEDAT SUNA)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement