REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Dai internasional Mufti Menk menegaskan kehidupan manusia, baik Muslim maupun non-Muslim, tidak pernah lepas dari ujian. Kehilangan harta, rasa lapar, sakit, hingga wafatnya orang-orang tercinta merupakan bagian dari sunnatullah yang harus dihadapi dengan kesabaran dan keimanan.
“Mereka mungkin akan pergi, mungkin juga tidak. Itu kehendak Allah. Bagaimana kamu akan menghadapinya? Allah berfirman, bersabarlah,” ujar Mufti Menk di hadapan ribuan jamaah di panggung utama ICE BSD Hall 2, Tangerang, Sabtu (24/1/2026).
Mufti Menk menjelaskan Allah SWT secara tegas menyatakan akan menguji manusia dengan rasa takut, kelaparan, kehilangan harta, jiwa, dan hasil panen. Semua itu, kata dia, bukanlah hukuman, melainkan sarana seleksi keimanan.
Sebagaimana difirmankan Allah SWT:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah [2]:155)
Ia menekankan ujian tidak mengenal status agama, kekayaan, maupun jabatan. Perbedaan seorang mukmin dengan yang lain terletak pada responsnya saat musibah datang.




