REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR — Pegiat sipil dan para aktivis pendukung kemerdekaan Palestina se-Asia Pasifik berkumpul di Malaysia, Senin (5/1/2026). Mereka berkumpul untuk kembali mempersiapkan pelayaran akbar Global Sumud Flotilla (GSF) menembus blokade Zionis Israel yang hingga kini masih melakukan penjajahan dan genosida terhadap masyarakat Palestina di Jalur Gaza.
Rencana pelayaran kembali tersebut disepakati paling lambat Juni 2026 mendatang. Beberapa pegiat sipil dan aktivis yang datang, adalah Thiago Avila, Saif Abukesyek, dan Keloniki Alexopoulou. Tuan rumah pertemuan di Malaysia tersebut adalah Muhammad Nadir al-Nuri yang merupakan direktur GSF.
Dari Indonesia, turut hadir Maimon Herawati yang merupakan Direktur Smart 171 sekaligus anggota Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI). Maimon menyampaikan, pelayaran akbar menembus blokade Gaza berlabel GSF 2.0.
Label tersebut, merupakan lanjutan dari misi serupa GSF 1.0 yang sudah rampung pada September 2025 lalu. “Seperti dalam misi pelayaran sebelumnya (GSF 1.0) GSF jilid dua tahun ini, tetap pada tujuan yang sama, yaitu untuk membawa bantuan kemanusian seperti obat-obatan, air bersih, dan bantuan-bantuan lainnya untuk kebutuhan bayi dan anak-anak serta kebutuhan untuk perempuan dan kaum ibu di Gaza yang hingga kini masih dalam kekangan blokade zionis Israel,” ujar Maimon dalam siaran pers yang diterima Republika di Jakarta, Selasa (6/1/2026).
Maimon menerangkan, dalam perbincangan di Malaysia, pembahasan tentang pelayaran GSF 2.0 belum menentukan titik pasti angkat jangkar serempak. Akan tetapi, kata dia, dalam GSF jilid dua tahun ini, diperkirakan partisipasi peserta pelayaran, maupun jumlah armada kemanusian yang lebih massif.