REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN -- Ahad siang itu, halaman sebuah sekolah di kawasan Joufah atau Jabal Al-Joufeh, tampak lengang. Hanya beberapa relawan Rumah Zakat dan pengurus sekolah yang lalu-lalang, menyiapkan paket hot meal yang akan dibagikan kepada para murid.
Di Yordania, Ahad bukan hari libur. Justru sebaliknya, Ahad adalah hari pertama sekolah. Libur pekan jatuh pada Jumat dan Sabtu, sebagaimana lazimnya negara-negara Timur Tengah. Itu sebabnya sekolah masih sepi ketika rombongan tiba, murid-murid masih di dalam kelas
Joufah: Bukit Tua, Cerita Lama Pengungsian
Joufah berada di tengah Amman, termasuk salah satu dari tujuh bukit asli yang membentuk kota tua ini. Di kawasan padat yang menanjak ini, jalan-jalan sempit dipenuhi rumah-rumah sederhana yang berdiri rapat satu sama lain. Meski bukan kamp pengungsi resmi seperti Kamp Wehdat, yang berada di bawah pengelolaan UNRWA, Joufah telah lama menjadi rumah bagi banyak keluarga Palestina.
Mereka datang sejak gelombang pertama pengungsian pada 1948 setelah peristiwa Nakbah, disusul perpindahan berikutnya akibat konflik yang tak kunjung padam. Di Joufah, identitas Palestina diwariskan lintas generasi, dalam bahasa, cerita, hingga kenangan yang dibawa dari tanah yang hilang.
Sore yang Riuh oleh Tawa Anak-Anak
Menjelang sore, halaman sekolah akhirnya dipenuhi langkah-langkah kecil. Anak-anak turun dari ruang kelas dengan semangat, lalu berbaris rapi. Para relawan segera menyambut mereka. Pensil warna pun mulai menari di pipi anak-anak, menggambar bendera merah putih dan simbol-simbol cinta. CEO Rumah Zakat, Irvan Nugraha, ikut terlibat, menggambar wajah anak-anak dengan telaten. Guratan kuas dibalas tawa renyah.
Permainan dimulai dipimpin Lalu, seorang mahasiswa Indonesia asal Lombok yang menjadi relawan. Gerakan sederhana, memegang kepala, bahu, pinggang, lalu kaki, diulang dengan tempo lagu yang makin cepat. Anak-anak mengikuti dengan penuh semangat, terpingkal-pingkal saat tempo tak terkejar. Dua relawan lain membantu membentuk dua lingkaran kecil agar permainan tetap tertib namun tetap riang.
View this post on Instagram
Hari itu digelar dalam rangkaian Indonesia Mendongeng, program tahunan Rumah Zakat yang biasanya berlangsung di berbagai daerah di Indonesia. “Tahun ini, Indonesia Mendongeng juga kami selenggarakan di Amman dan Mesir,” ujar Irvan Nugraha. “Kami ingin menghibur, menyemangati, dan memotivasi anak-anak Palestina yang tinggal di Yordania. Semoga kegiatan ini membuat mereka merasa lebih kuat dan lebih ceria.”
Beasiswa, Anak Asuh, dan Masa Depan yang Menuntut Sinergi
Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, yang juga hadir di acara ini menilai, kegiatan seperti ini memiliki nilai strategis yang jauh lebih dalam dari sekadar hiburan sesaat. Ia menegaskan pentingnya dukungan berkelanjutan dari masyarakat Indonesia untuk masa depan generasi Palestina. “Keterlibatan masyarakat Indonesia melalui lembaga filantropi, ormas-ormas Islam, dan kekuatan civil society menjadi sangat penting untuk memikirkan masa depan generasi muda Palestina. Skema beasiswa, anak asuh, serta pendampingan psikologis, sosial, akademik, dan ekonomi merupakan kebutuhan mendesak yang menuntut sinergi kuat dan berkelanjutan,” ujar Sudarnoto.
Menurutnya, aksi-aksi kemanusiaan seperti Indonesia Mendongeng bukan hanya bentuk solidaritas, tetapi juga fondasi awal bagi kerja sama jangka panjang yang dapat memperbaiki kualitas hidup generasi Palestina.
Makanan Hangat, Hati yang Menghangat
Usai bermain dan mendengarkan dongeng, para relawan membagikan paket hot meal kepada seluruh anak. Mereka duduk bergerombol, menikmati makanan hangat sambil masih menirukan gerakan permainan barusan.
Di tengah kawasan urban padat yang menjadi saksi panjangnya cerita pengungsian, sore itu menjadi ruang kecil bagi anak-anak untuk merasa ringan sejenak, melupakan hiruk pikuk kehidupan kampung padat yang mereka tinggali.
Kami hanya singgah beberapa jam di Joufah, tetapi tawa anak-anak Palestina sore itu menandai satu hal: perhatian kecil bisa menyalakan keceriaan yang panjang.