Ahad 04 Jan 2026 15:00 WIB

Kala Media AS Akui Kekuataan Muslim New York tak Lagi Dipandang Remeh Sejak Kemenangan Mamdani

Populasi Muslim di New York sekitar 12 persen dari total populasi.

Zohran Mamdani berbicara usai memenangkan pemilihan walikota, Selasa, 4 November 2025, di New York.
Foto: AP Photo/Yuki Iwamura
Zohran Mamdani berbicara usai memenangkan pemilihan walikota, Selasa, 4 November 2025, di New York.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK— Panggung politik di New York selalu jadi hasil dari gelombang migrasi dan kelompok etnis serta agama terus-menerus mengukir tempatnya di hati kota yang dikenal sebagai "Big Apple", mulai dari orang Irlandia dan Italia sampai komunitas Yahudi dan Afrika.

Namun, Pemilihan Umum 2025 mengumumkan perubahan demografis dan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca Juga

Dengan dilantiknya Zohran Mamdani sebagai wali kota Muslim pertama dan keturunan Asia Selatan untuk kota tersebut, komunitas Muslim tidak lagi sekadar angka dalam sensus penduduk, tetapi menjadi motor utama dan tulang punggung kekuasaan kota, menurut surat kabar Washington Post.

Mamdani mengambil sumpah konstitusional di atas Alquran pada dini hari tahun baru, dalam upacara khusus diadakan di stasiun metro gedung balai kota tua yang dibangun pada 1904 di Kota New York, dengan dihadiri oleh anggota keluarga dan orang-orang terdekatnya saja.

Dalam pidato pelantikannya, Mamdani mengatakan bahwa dirinya akan memimpin New York dengan keberanian.

"Kita mungkin tidak selalu berhasil, tetapi tidak akan pernah ada yang mengatakan bahwa kita tidak memiliki keberanian untuk mencoba," kata dia, dikutip Aljazeera, Ahad (4/1/2025).

Kenaikan dari pinggiran

Menurut laporan Washington Post, terpilihnya Zohran Mamdani (34 tahun) merupakan momen penting dalam sejarah New York.

photo
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama Wali Kota New York City terpilih Zohran Mamdani menjawab pertanyaan wartawan seusai keduanya melakukan pertemuan untuk pertama kalinya di Gedung Putih. Jabat tangan dan senyuman yang dilontarkan keduanya saat bertemu di Ruang Oval menandai berubahnya sikap kedua tokoh tersebut yang mungkin mulai menyadari bahwa lebih banyak hal yang dapat dicapai melalui kerja sama, bukan permusuhan. - (AP Photo/Evan Vucci)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement