REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –Di tengah hiruk-pikuk kehidupan masyarakat pascaperang Unta, Ali bin Abu Thalib radhiyallahu anhu menyampaikan nasihat yang kelak dikenang lintas generasi.
Nasihat itu tidak disampaikan di mimbar atau majelis besar, melainkan kepada seorang anak bernama Hasan Al-Bashri, dengan pesan-pesan sederhana namun mendalam tentang iman, kejujuran, dan kezuhudan.
Dari perjumpaan singkat itulah lahir petuah abadi tentang jalan keselamatan di dunia dan akhirat.
Diriwayatkan beberapa waktu seusai Perang Unta, Ali bin Abu Thalib mendatangi permukiman-permukiman dan tempat-tempat perniagaan untuk memeriksa keadaan penduduk setempat.
Dalam kesempatan itu dia memperhatikan cara mereka berjual-beli, cara mereka menggunakan takaran dan timbangan, serta memberi petunjuk-petunjuk seperlunya agar segala sesuatunya berjalan lurus.
Dikutip dari buku Imamul Muhtadin yang ditulis HMH Al-Hamid Al-Husaini, Hasan Al-Bashri meriwayatkan sebagai berikut, “Ketika aku masih kanak-kanak usia belasan tahun aku tinggal di Bashrah.
Pada suatu hari, di saat aku sedang mengambil air wudhu, lewat seorang lelaki menunggang kuda berwarna kelabu dan memakai serban berwarna hitam.
Entah dari siapa dia mengetahui namaku, karena tiba-tiba dia berkata, 'Hai Hasan, ambillah air wudhu dengan baik, niscaya Allah akan melimpahkan kebaikan kepadamu di dunia dan akhirat. Hai Hasan, tahukah engkau bahwa shalat itu merupakan ukuran."
"Aku mengangkat kepala dan setelah kuperhatikan sejenak ternyata lelaki itu adalah Amirul Mukminin, Ali bin Abu Thalib, karramallahu-wajhahu. Aku segera menyempurnakan wudhu, kemudian aku berjalan cepat mengikutinya di belakang kuda yang berjalan perlahan-lahan," kata Hasan Al-Bashri menceritakan.




