REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Komentar Wakil Presiden AS JD Vance telah menimbulkan kekhawatiran di Tel Aviv dan memicu pertanyaan apakah perbedaan dengan pemerintahan Presiden Donald Trump dapat semakin melebar.
JD Vance menulis dalam sebuah posting di platform X bahwa “Ada perbedaan antara tidak menyukai Israel, atau tidak setuju dengan kebijakan tertentu Israel, dan antisemitisme.”
I would say there's a difference between not liking Israel (or disagreeing with a given Israeli policy) and anti-semitism.
— JD Vance (@JDVance) December 16, 2025
Pernyataannya memicu pertanyaan di Tel Aviv tentang arah kebijakan AS dan apakah kepentingan Israel dan Amerika Serikat dapat bertabrakan di masa depan.
Anna Barsky, koresponden politik surat kabar Maariv, dikutip Aljazeera, Jumat (19/12/2025), membahas isu ini dalam wawancara di Radio Tzafon 104.5FM.
Dia mengatakan pesan tersebut mengkhawatirkan bagi Tel Aviv. “Ini adalah tanda peringatan besar bagi Israel. Vance menulis bahwa tidak menyukai Israel atau mengkritiknya tidak boleh dikaitkan dengan antisemitisme. Ini bukan sekadar komentar sepele. Ketika pernyataan ini datang dari Wakil Presiden AS, mereka harus diambil serius,” katanya.
Barsky juga merujuk pada pandangan umum di Israel, terutama di kalangan sayap kanan, tentang pemerintahan Trump.
“Ada anggapan bahwa pemerintahan itu sepenuhnya pro-Israel, hingga memenuhi impian sayap kanan,” katanya, menambahkan bahwa kini ada tanda-tanda bahwa pendekatan ini mungkin mulai berubah.