REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Islam memandang dengan sangat serius perkara menyelamatkan nyawa manusia. Maka dari itu, agama ini menghukum berat pelaku pembunuhan yang melakukan kejahatan itu secara sengaja.
Dalam Alquran, Allah menyatakan murka-Nya kepada siapapun yang membunuh orang Mukmin tanpa hak. Pelaku pembunuhan juga diancam dengan neraka jahanam.
وَمَنۡ يَّقۡتُلۡ مُؤۡمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُهٗ جَهَـنَّمُ خَالِدًا فِيۡهَا وَغَضِبَ اللّٰهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهٗ وَاَعَدَّ لَهٗ عَذَابًا عَظِيۡمًا
"Dan barang siapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya" (QS an-Nisa: 93).
Begitu berharganya nyawa seorang Muslim dalam pandangan Allah. Bahkan apabila ditimbang antara seisi dunia ini dan jiwa orang Mukmin, maka nyawa itulah yang lebih utama.
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim" (HR an-Nasa`i).
Rasulullah SAW juga pernah berpesan, "Dosa membunuh seorang Mukmin lebih besar daripada hancurnya dunia."
Dalam sebuah hadis hasan, beliau pun menekankan bahwa darah seorang Muslim lebih mulia daripada Ka'bah. Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Ketika Rasulullah SAW memandangi Ka’bah, beliau bersabda, ‘Selamat datang, wahai Ka’bah! Betapa agungnya engkau dan betapa agung kehormatanmu. Akan tetapi, orang Mukmin lebih agung di sisi Allah daripadamu" (HR al-Baihaqiy).
Menurut Muhammad Ibnu Sahroji dalam laman Nahdlatul Ulama Online, para ulama fikih mendefinisikan pembunuhan sebagai perbuatan yang menghilangkan atau mencabut nyawa seseorang. Syekh Taqiyuddin al-Syafi’i dalam Kifayatul Akhyar menjelaskan, pembunuhan secara sengaja memiliki tiga ciri utama.
Pertama, korban adalah orang yang masih hidup dan dijaga darahnya. Dalam arti, ia bukan musuh dalam kancah peperangan.
Kedua, tindakan pelaku benar-benar menyebabkan kematian korban. Ketiga, ada niat dalam diri pelaku untuk menghilangkan nyawa.
Niat inilah yang menjadi poin penting. Sebab, itu membedakan antara pembunuhan sengaja, mirip sengaja, dan tidak sengaja.
Karena niat terletak dalam hati, maka dalam praktik hukum Islam, alat atau media yang digunakan untuk membunuh itu menjadi indikator utama.