Selasa 11 Jun 2024 17:44 WIB

Skema Murur dan Kebaikan untuk Jamaah Haji

Murur merupakan salah satu solusi untuk jamaah haji yang memiliki keterbatasan fisik.

Skema Murur untuk Kebaikan Jamaah Haji. Foto: Pekerja menyelesaikan persiapan untuk puncak ibadah haji di Arafah, Arab Saudi.
Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Skema Murur untuk Kebaikan Jamaah Haji. Foto: Pekerja menyelesaikan persiapan untuk puncak ibadah haji di Arafah, Arab Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhyiddin dan Karta Raharja Ucu dari Makkah, Arab Saudi

 

Baca Juga

Petugas Penyelenggara Haji Indonesia (PPIH) Arab Saudi 2024 sudah menyiapkan skema murur (melintas) bagi jamaah haji yang kondisinya tidak memungkinkan untuk turun dari bus saat mabit di Muzdalifah. Ini berlaku untuk jamaah haji yang kondisinya sakit, jamaah lansia, jamaah risti, dan jamaah yang tidak memungkinkan untuk berlama-lama di Mudzdalifah.

"Sehingga kondisi jamaah tetap menjadi prioritas, supaya kesehatan jamaah haji tetap terjaga," ujar Pembimbing Haji PPIH Arab Saudi, Prof KH Aswadi Syuhadak belum lama ini.

 

Menag Yaqut Cholil Qoumas menyatakan skema Murur saat mabit (menginap) di Muzdalifah telah dikaji dengan mempertimbangkan aspek hukum fikih dan keamanan jamaah.

"Sudah ada beberapa pilihan skema Murur. Karena memang kita tidak hanya boleh bicara sekadar bagaimana Murur itu bisa dilaksanakan dengan mudah. Di situ ada hukum fikih yang saya kira juga perlu didiskusikan," kata Menag Yaqut di Jeddah.

Mabit di Muzdalifah dengan cara Murur adalah mabit yang dilakukan dengan cara melintas di Muzdalifah, setelah menjalani wukuf di Arafah.

Jamaah saat melewati kawasan Muzdalifah tetap berada di atas bus (tidak turun dari kendaraan), lalu bus langsung membawa mereka menuju tenda Mina.

"Tadi teman-teman sudah berdiskusi dengan Mustasyar Diny, tim para ulama, yang memberikan justifikasi secara hukum dan kesimpulannya diperbolehkan," kata Menag Yaqut.

Sejalan dengan itu, kata dia, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tengah mengatur skema Murur yang paling memungkinkan. Sejumlah teknis pergerakan jamaah dikaji dan diperhitungkan.

"Insya Allah segera difinalisasi skemanya, termasuk mempertimbangkan animo yang besar sekali dari jamaah haji untuk mengikuti Murur ini. Mudah-mudahan hari ini bisa kami rumuskan yang terbaik buat jamaah dan memastikan bahwa Murur itu bisa berjalan dengan lancar," kata Menag.

Skema Murur menjadi ijtihad dan ikhtiar bersama dalam menjaga keselamatan jiwa jamaah calon haji Indonesia di tengah keterbatasan area di Muzdalifah, area yang diperuntukkan bagi jamaah Indonesia seluas 82.350 m2.

Pada 2023 area ini ditempati sekitar 183.000 jamaah Indonesia yang terbagi dalam 61 maktab. Sementara ada sekitar 27.000 peserta haji Indonesia (9 maktab) yang menempati area Mina Jadid, sehingga setiap orang saat itu hanya mendapatkan ruang atau tempat sekitar 0,45 m2 di Muzdalifah.

Sementara pada  2024 Mina Jadid tidak lagi ditempati jamaah Indonesia, sehingga 213.320 peserta dan 2.747 petugas haji akan menempati seluruh area Muzdalifah.

Padahal tahun ini juga ada pembangunan toilet yang mengambil tempat di Muzdalifah seluas 20.000 m2, sehingga ruang yang tersedia untuk setiap orang jika semuanya ditempatkan di Muzdalifah, 82.350 m2 - 20.000 m2 atau sama dengan 62.350 m2/213.320 = 0,29 m2.

Dengan demikian, kata dia, tempat di Muzdalifah menjadi semakin sempit dan ini berpotensi sangat padat luar biasa yang jika dibiarkan akan dapat membahayakan jamaah.

Skema Murur diprioritaskan bagi jamaah yang mengalami risiko tinggi (risti) secara medis, lanjut usia (lansia), disabilitas, berkursi roda, serta para pendamping jemaah (risti, lansia, disabilitas, dan berkursi roda).

Seberapa tertarik Kamu untuk membeli mobil listrik?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement