Senin 12 Feb 2024 13:10 WIB

Pesan Muhammadiyah di Pemilu 2024: Menang Kalah Harus Terima  

Pemilu yang bersih tanpa penyimpangan mesti menjadi komitmen dan budaya politik.

Rep: Mabruroh/ Red: Gita Amanda
Ketum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir mengatakan setiap kontestasi, para peserta dan pendukung harus siap menang dan kalah.
Foto: Muhammadiyah
Ketum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir mengatakan setiap kontestasi, para peserta dan pendukung harus siap menang dan kalah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para kontestan dan pendukung pada Pemilu 2024 harus berkontestasi secara demokratis, kejujuran, keterpercayaan, dan lapang hati, serta siap menang dan siap kalah. Demikian pesan yang disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Ahad (11/2/2024) lalu dalam Refleksi Pemilu 2024 yang disiarkan oleh TVMU.

Menurutnya dalam setiap kontestasi, para peserta dan pendukung harus siap menang dan kalah. Berkompetisi secara sportif dengan jiwa kenegarawanan yang tinggi, sehingga Pemilu 2024 menjadi bersih, beretika, dan tidak ada kecurangan.

Baca Juga

“Seluruh pihak yang berkontestasi siapapun yang menang dan memperoleh mandat rakyat benar-benar hasilnya autentik, tidak takabur diri, serta bebas dari hisab dan hujatan publik,” kata Haedar dikutip Republika di website resmi Muhammadiyah, Senin (12/2/2024).

Di sisi lain, bagi para pejabat publik baik itu yang ada di aparat TNI, Polri, dan seluruh pihak penyelenggara pemerintahan dari pusat sampai daerah diharapkan menjunjung patriot, profesional, menjaga moralitas, dan tanggung jawab konstitusinya dalam melaksanakan pengawalan Pemilu.

 

Pesan serupa juga Haedar tujukan pada penyelenggara Pemilu yaitu KPU, Bawaslu, dan berbagai lembaga terkait untuk berintegritas. Mereka diharapkan menjadi wasit yang memiliki tanggung jawab tidak hanya keduniaan, tapi juga di hari akhir.

“Pemilu yang bersih tanpa penyimpangan mesti menjadi komitmen dan budaya politik seluruh elit dan warga serta penyelenggara negara, dan komponen bangsa,” tutur Haedar.

Setelah melewati lima Pemilu, bangsa ini diharapkan pada Pemilu 2024 ini akan berjalan lebih baik, bersih, dan lebih bermartabat sejalan dengan peraturan yang berlaku. Sebab jika terjadi penyimpangan dan tidak sejalan sesuai konstitusi, Haedar khawatir akan menimbulkan insiden buruk.

Namun jika nanti setelah penyelenggaraan Pemilu 2024 terjadi sengketa melalui jalur hukum. Maka hukum yang harus berlaku adalah yang lurus disertai kejujuran, akuntabel, terbuka, dan mengedepankan etika luhur.

“Keteladanannya dengan taat konstitusi dan mau menyelesaikan sengketa Pemilu secara elegan, melalui jalur hukum yang berlaku disertai jiwa kenegarawanan yang utama. Jauhi segala provokasi dan anarki yang dapat mencederai demokrasi dan merusak masa depan negeri,” pesan Haedar.

Kepada rakyat Indonesia yang memiliki suara, Haedar berpesan supaya tidak menjadi golongan putih (golput). Sebab penyaluran suara yang mereka lakukan bagian dari wujud tanggung jawab kebangsaan. Maka rakyat diharapkan mengikuti Pemilu dengan tertib, aman, damai, taat, cerdas, kritis, dewasa, beretika, toleran dan menjaga persaudaraan.

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement