Rabu 31 Jan 2024 23:48 WIB

Bekerja di Pusat Kesehatan, Muslimah di Swedia Dipaksa Buka Jilbab

Diskriminasi masih sering menimpa Muslim di Swedia

Rep: Mabruroh / Red: Nashih Nashrullah
Ilustrasi Muslimah. Diskriminasi masih sering menimpa Muslim di Swedia
Foto: Anadolu
Ilustrasi Muslimah. Diskriminasi masih sering menimpa Muslim di Swedia

REPUBLIKA.CO.ID, STOCKHOLM — Muslimah dipaksa untuk melepaskan jilbabnya di sebuah pusat kesehatan di kota Uppsala, Swedia. Wanita tersebut mengaku dipaksa melepas atribut penutup kepala oleh seorang dokter pada Maret 2023 lalu.

Dilansir dari Anadolu Agency pada Rabu (31/1/2024), Ombudsman Kesetaraan (DO) Swedia memutuskan mendukung wanita itu dan mengatakan, bahwa perilaku dokter itu adalah mendiskriminasi Muslimah. Namun hingga kini, pusat kesehatan itu belum memberikan penjelasan yang masuk akal untuk tindakan dokter yang dimaksud.

Baca Juga

"Penting bahwa setiap orang yang mencari perawatan merasa aman bahwa mereka akan diperlakukan dengan cara yang tidak diskriminatif," tambahnya.

Ombudsman meminta agar pusat kesehatan tersebut memberikan kompensasi kepada Muslimah itu dengan membayar 70 ribu Krona Swedia atau 6.722 dolar AS  (Rp 105 juta).

Pada 2017 lalu, perilaku diskriminasi juga pernah dialami oleh banita Muslimah di sebuah perusahaan penerjemah di kota timur Uppsala, Swedia. Pihak perusahaan membatalkan wawancara wanita Muslimah itu dengan alasan mengenakan jilbab.

Perusahaan telah mengambil keputusan jilbab dari Pengadilan Kehakiman Eropa, bahwa penggunaan simbol politik dan agama apa pun dilarang di bawah aturan internal.

"Tapi kami tidak berpikir bahwa jilbab akan menjadi masalah karena Muslimah akan melakukan terjemahan di telepon atau panggilan video," kata DO Swedia.

Pengadilan Eropa memutuskan  bahwa pengusaha dapat melarang pekerja mereka mengenakan simbol agama apa pun, termasuk jilbab yang dikenakan beberapa Muslimah.

Diperkirakan ada 800 ribu Muslim berada di Swedia atau sekitar delapan persen dari 10,23 juta penduduk Swedia. Sebagian besar populasi Muslim tinggal di kota-kota besar, dengan lebih dari 60 persen tinggal di tiga wilayah kota besar, Stockholm, Goteborg, dan Malmo. 

Populasi Muslim Swedia cukup beragam, dari lebih dari empat puluh negara yang berbeda, dari Turki, Bosnia, dan Iran hingga Pakistan, Arab Saudi dan negara-negara Afrika, Asia, dan Eropa lainnya. Populasi Muslim utama di Swedia adalah populasi Turki. 

Pada 1980-an, mereka menjadi mayoritas populasi Muslim di Swedia, tetapi saat ini hanya mencakup sekitar 10 persen dari total populasi Muslim. Namun, penduduk Turki mempertahankan sumber utama pengaruh politik Muslim melalui kelompok lobi yang mapan dan bersatu.  

Populasi Iran merupakan subkelompok terbesar kedua dari etnis Muslim yang sebagian besar tiba setelah 1985 sebagai pengungsi. Meskipun banyak anggota populasi ini lebih sekuler, seperenam dari populasi ini dianggap Muslim religius. 

Baca juga: Ingin Segala Urusan Dipermudah Allah SWT? Baca Doa dari Alquran Berikut Ini

Populasi besar lainnya termasuk sejumlah besar warga Irak, banyak di antaranya adalah Kurdi, sisa-sisa perang Iran-Irak dan kebijakan pembersihan etnis Saddam Hussein. Ada juga populasi Lebanon yang cukup besar  sedangkan sisanya berasal dari Maroko, Suriah, Tunisia, dan Palestina.   

Populasi utama dari Afrika termasuk Somalia, Ethiopia. Dari Balkan, ada sekitar 40 ribu Muslim dari Bosnia, dan sejumlah besar pengungsi dari bekas Yugoslavia selama perang saudara. 

Ada enam masjid yang dibangun khusus di Swedia, empat Masjid Muslim Sunni di Stockholm, Malmo, Uppsala dan Vasteras, satu Masjid Syiah di Trollhattan, dan satu masjid Ahmadiyah di Goteborg.  

Karena hanya sedikit dari masjid yang dibangun khusus ini, kebanyakan Muslim di Swedia mempraktikkan keyakinan mereka di masjid bawah tanah. 

photo
Infografis Islamofobia Makin Memburuk di Eropa - (TRT World/Daily Sabah)

Berita Terkait
Berita Lainnya

Rekomendasi