Senin 04 Sep 2023 17:35 WIB

AS Larang Ekspor Microchip AI ke Beberapa Negara Timur Tengah

AS mengeklaim pembatasan ekspor microchip untuk keamanan.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Erdy Nasrul
Microchip (ilustrasi)
Foto: Pixabay
Microchip (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Amerika Serikat (AS) melarang ekspor microchip kecerdasan buatan atau AI ke beberapa negara Timur Tengah. AS mengeluarkan pembatasan baru yang membuat mikrochip canggih Nvidia dan AMD AI tidak bisa diekspor ke negara-negara yang tidak ditentukan di kawasan Timur Tengah.

Para pejabat AS telah berulang kali menegaskan bahwa pembatasan ini, yang sebelumnya diberlakukan untuk melarang ekspor komponen dan teknologi pembuat chip canggih ke Tiongkok, diberlakukan demi alasan keamanan nasional.

Baca Juga

Namun, Nvidia tidak memberikan penjelasan mengenai pembatasan baru tersebut dalam pengajuan peraturan terbaru pekan ini, tertanggal 28 Agustus. Tahun lalu, perusahaan tersebut mengatakan para pejabat AS memberi tahu mereka bahwa peraturan tersebut akan mengatasi risiko digunakannya produk itu oleh pengguna akhir militer atau pengguna akhir militer di Cina.

"Selama kuartal kedua tahun fiskal 2024, USG (Pemerintah AS) memberi tahu kami tentang persyaratan lisensi tambahan untuk sebagian produk A100 dan H100 yang ditujukan untuk pelanggan tertentu dan wilayah lain, termasuk beberapa negara di Timur Tengah," kata Nvidia dalam pernyataannya, dilansir Albawaba, Jumat (1/9/2023).

 

Sementara itu, Advanced Micro Devices, AMD, juga menerima surat informasi dengan batasan serupa. Hal ini diketahui dari sumber yang tidak disebutkan namanya kepada Reuters, yang mengonfirmasi bahwa pembatasan tersebut tidak akan berdampak signifikan pada pendapatan mereka.

Pembatasan tersebut memengaruhi chip A100 dan H100 milik Nvidia, yang dirancang untuk mempercepat tugas pembelajaran mesin. Meskipun demikian, hal tersebut tidak akan memberikan dampak material langsung terhadap perusahaan.

Nvidia telah mengalahkan ekspektasi analis dan pasar selama dua kuartal berturut-turut, yang telah membuat saham perusahaan melonjak pekan ini, bersama dengan sebagian besar indeks saham AS.

Perusahaan ini memperoleh sebagian besar penjualan senilai 13,5 miliar dolar AS pada kuartal fiskal yang berakhir 30 Juli dari AS, Tiongkok, dan Taiwan. Sekitar 13,9 persen penjualan berasal dari gabungan seluruh negara lain, dan Nvidia tidak memberikan rincian pendapatan untuk penjualan di Timur Tengah.

Tahun lalu, AS mengeluarkan kontrol ekspor yang membatasi ekspor microchip canggih ke Tiongkok. Nvidia, AMD, dan Intel sejak saat itu telah mengumumkan rencana untuk membuat chip AI yang kurang bertenaga yang dapat diekspor ke pasar Tiongkok.

Tanpa chip dari perusahaan seperti Nvidia dan AMD, Cina tidak akan mampu melaksanakan jenis komputasi canggih yang digunakan untuk pengenalan gambar dan ucapan, serta banyak tugas lainnya dengan biaya yang efektif.

Pengenalan gambar dan pemrosesan bahasa alami adalah hal biasa dalam aplikasi konsumen seperti ponsel cerdas yang dapat menjawab pertanyaan dan menandai foto. Mereka juga memiliki kegunaan militer seperti menjelajahi citra satelit untuk mencari senjata atau pangkalan dan menyaring komunikasi digital untuk tujuan pengumpulan intelijen.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement