Rabu 12 Jul 2023 17:30 WIB

Temu Komunitas LGBT se-ASEAN Batal, Ketua BKMT: Mudah-mudahan tak Lagi Digelar Dimana pun

BKMT meminta pemerintah dan semua pihak cegah aktivitas kampanye LGBT

Rep: Zahrotul Oktaviani, Fergi Nadira/ Red: Nashih Nashrullah
Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Syifa Fauzia, meminta pemerintah dan semua pihak cegah aktivitas kampanye LGBT
Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Syifa Fauzia, meminta pemerintah dan semua pihak cegah aktivitas kampanye LGBT

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –  Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Ustadzah Syifa Fauzia menyebut rencana pertemuan aktivis LGBT se-ASEAN di Indonesia mengkhawatirkan. 

Dia pun berharap pemerintah Indonesia bisa terus mencegah dan menanggulangi munculnya kampanye LGBT ini. 

Baca Juga

"Saya mendapat informasi dari berbagai pihak, katanya pertemuan ini sudah dibubarkan. Mungkin mereka mencari tempat lain selain di Indonesia. Mudah-mudahan ini memang betul dan tidak akan dilakukan di kota manapun di Indonesia," ujar dia dalam pesan yang diterima Republika.co.id, Rabu (12/7/2023). 

Ustadzah Syifa menilai, kegiatan tersebut merupakan upaya untuk mengungkapkan eksistensi kelompok LGBT di Indonesia. 

 

Hal ini menjadi kekhawatiran dan ketakutan bangsa, mengingat betapa massifnya gerakan mereka saat ini. 

Kelompok LGBT disebut memiliki keinginan untuk tampil atau eksis, diakui, bahkan disahkan di Indonesia. Beragam kampanye dilakukan, yang mana mengkhawatirkan bagi generasi Tanah Air. 

"Mudah-mudahan dengan dibatalkannya acara ini, tidak ada acara serupa atau acara tandingan yang dibuat sehingga kampanye-kampanye LGBT yang lebih massif ini tidak hadir di Indonesia," lanjut dia.

Kegiatan berkumpulnya kelompok pelangi tersebut juga disampaikan sebagai hal yang mengancam dan berbahaya, bagi generasi muda dan anak-anak Indonesia. Dari sisi orang tua dan lingkup agama, sosial dan budaya, hal ini merupakan tantangan karena tidak dikehendaki dan dilarang oleh agama.

Dia menyebut, tidak ada pihak yang ingin budaya Indonesia terkontaminasi oleh aktivitas serupa. Karena itu, setiap pihak harus bersiap untuk mengatasinya di tahun-tahun ke depan.

Ke depannya, aktivitas kelompok LGBT dinilai akan semakin beragam. Tidak akan ada yang bisa menebak tindakan atau terobosan yang akan mereka lakukan, untuk masuk dalam lingkup negara dan budaya Indonesia.

"Kita harus bisa mencegah hal ini bagaimana pun caranya, semaksimal yang kita bisa. Untuk pemerintah, semoga bisa terus mencegah munculnya paham dan kampanye yang diisi LGBT ini," kata Ustazah Syifa.

Tidak hanya itu, Ketua Umum BKMT ini juga menyebut harapannya agar pemerintah tegas melarang dan menolak hal-hal yang bisa membuat kelompok tersebut memperluas ekosistem dan jaringannya di Tanah Air. Segala upaya perlu dilakukan untuk mencegah kehadiran mereka yang lebih luas. 

Baca juga: Acara Pertemuan Komunitas LGBT se-ASEAN di Jakarta Batal Digelar

Pertemuan komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) se-ASEAN di Jakarta pada pertengahan Juli ini akhirnya batal digelar. Rencana ini mendapatkan kecaman luas dari publik termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pihak Istana pun ikut merespons.

"Penyelenggara Pekan Advokasi Queer ASEAN memutuskan untuk merelokasi tempat pertemuan di luar Indonesia, setelah mendapat serangkaian ancaman keamanan dari berbagai kalangan," kata penyelenggara Queer Advocacy Week ASEAN Sogie Caucus dalam pernyataannya pada Rabu (12/7/2023).

Pihak penyelenggara telah memantau situasi dari dekat dan cermat, termasuk gelombang sentimen “anti-LGBT” di media sosial. Keputusan pembatalan lokasi pun diambil untuk memastikan keselamatan dan keamanan baik peserta maupun penyelenggara.

Kendati begitu, ASEAN Sogie Caucus tidak mengungkapkan di mana negara lokasi penggantian rencana pertemuan tersebut. Namun, diketahui ASEAN SOEGIE berbadan hukum di Filipina.

Organisasi tersebut kemudian meminta pemangku kepentingan ASEAN dan anggotanya untuk menciptakan ruang dialog bagi kelompok-kelompok termarginalkan. Mereka tak ingin didiskriminasi berdasarkan orientasi seksual, identitas gender, ekspresi gender, dan karakteristik seks mereka (SOGIESC).

Baca juga: Ketika Kabah Berlumuran Darah Manusia, Mayat di Sumur Zamzam, dan Haji Terhenti 10 Tahun

"Visi bersama kami tentang kawasan ASEAN yang inklusif didasarkan pada keberadaan ruang aman bagi masyarakat sipil dan pemegang hak untuk belajar tentang lembaga tersebut, untuk membahas masalah yang penting bagi mereka, dan untuk secara kolektif menggunakan hak kami untuk secara bebas mengekspresikan pandangan kami tentang bagaimana ASEAN memajukan, atau tidak, hak asasi masyarakat kita," kata ASEAN Sogie.

ASEAN Sogie terus menyuarakan perlindungan hak asasi manusia imbas ancaman yang dihadapi setiap hari bagi keberadaan hidup dan martabat orang LGBTQIA+. Kebencian daring, serangan langsung terhadap pembela hak asasi manusia, dan pembalasan atas pelaksanaan hak sipil dan politik juga mereka hadapi.

"Kami mendesak mekanisme hak asasi manusia ASEAN untuk memantau dan menanggapi hal ini," ujar organisasi tersebut. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement