Selasa 09 May 2023 13:45 WIB

Bank Dunia: Bantuan dan Jaminan Sosial Paling Efektif Turunkan Kemiskinan

Program subsidi energi bahan bakar minyak dianggap tidak efektif.

Rep: Novita Intan/ Red: Lida Puspaningtyas
Presiden Joko Widodo (kiri) membagikan pakaian kepada pedagang dan masyarakat saat mengunjungi Pasar Natar di Lampung Selatan, Lampung, Jumat (5/5/2023). Dalam kunjungan tersebut Presiden meninjau langsung harga dan pasokan sejumlah komoditas pangan serta membagikan paket bantuan sosial kepada pedagang dan masyarakat.
Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Presiden Joko Widodo (kiri) membagikan pakaian kepada pedagang dan masyarakat saat mengunjungi Pasar Natar di Lampung Selatan, Lampung, Jumat (5/5/2023). Dalam kunjungan tersebut Presiden meninjau langsung harga dan pasokan sejumlah komoditas pangan serta membagikan paket bantuan sosial kepada pedagang dan masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Dunia menilai program bantuan sosial dan jaminan sosial lebih efektif untuk menurunkan angka kemiskinan daripada program subsidi energi bahan bakar minyak (BBM). Bank Dunia mencatat program subsidi bahan bakar minyak hanya mengurangi tingkat kemiskinan sebesar 2,4 poin persentase.

Menurut data Bank Dunia, angka kemiskinan di Indonesia sebesar 16 persen dari total penduduk pada 2022 lalu. Adapun perhitungan penduduk miskin ini dengan asumsi pendapatan di bawah 1,90 per hari dolar AS.

Baca Juga

"Bantuan sosial tidak hanya lebih efisien untuk mengurangi kemiskinan, tetapi juga sangat progresif dalam mengurangi ketimpangan," tulis Laporan Bank Dunia, Selasa (9/5/2023).

Laporan Bank Dunia mengungkapkan, jaminan sosial dapat membantu mengurangi dampak buruk dari permasalahan pengangguran hingga kesehatan. Meskipun saat ini jaminan sosial hanya tersedia bagi pekerja formal.

“Bank Dunia berharap pemerintah dapat memperluas jangkauan bansos dan perlindungan sosial untuk meningkatkan perlindungan dan produktivitas pekerja,” ungkap laporan tersebut.

Bank Dunia mengungkapkan saat ini masih banyak pekerja informal yang belum mendapatkan perlindungan dari jaminan sosial pemerintah.

"Saat ini, hanya pekerja formal yang memiliki perlindungan kejadian-kejadian tersebut," tulis laporan Bank Dunia.

Sebaliknya, program subsidi energi bahan bakar minyak dianggap tidak efektif untuk mengurangi angka kemiskinan. Hal ini dikarenakan program ini terlalu mahal dan membebani fiskal negara.

"Subsidi energi mahal dan tidak efektif dalam mengurangi kemiskinan dan ketimpangan," ungkap laporan Bank Dunia.

Bank Dunia menilai implementasi program subsidi bahan bakar minyak sebagian besar tidak tepat sasaran sehingga berdampak kecil terhadap masyarakat ekonomi ke bawah. Bahkan, program tersebut bersifat regresif terhadap lingkungan.

"Subsidi (BBM) tersebut tidak tepat sasaran bagi petani miskin, sebagian besar tidak efektif," tulis laporan tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement