Ahad 25 Dec 2022 12:05 WIB

Selamat Jalan Babeh Ridwan Saidi : Bikin Tulisan Itu Harus yang Nendang!

Mengenang penulis dan pemikir Ridwan Saidi

Ridwann Saidi: Sejarawan, Budayawan Betawi, da? Politisi Senior.
Foto: RIDWAN SAIDI
Ridwann Saidi: Sejarawan, Budayawan Betawi, da? Politisi Senior.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: DR M Alfan Alfian, akademisi dan aktivis KAHMI.

Ridwan Saidi. Nama ini sudah begitu familiar bagi saya sejak SD, jauh sebelum zaman ILC Karni Ilyas, ketika setelah bisa membaca saya gemar mengintip majalah langganan bapak saya, di suatu desa pedalaman Jawa, Panji Masyarakat. 

Pertama kali yg menarik bagi anak anak seperti saya ketika itu ialah halaman lembar anak anak apalagi kalau ada cerita Abunawas yg lucu lucu atau komik petualangan Ibnu Salwa.

Tapi sekitar kelas enam SD, mata saya mulai menjelajah tulisan tulisan lain: kolom kolom yg ternyata isinya bagus bagus. Selain kolom tetap HAMKA “Dari Hati ke Hati” sy baca juga nyaris semua kolom yg ada dari kolomnya Fachry Ali, Emha Ainun Nadjib, Ahmad Tohari, Ayib Bakar, dan tentu juga kolomnya Ridwan Saidi; juga merambah pula ke artikel artikel serius seperti tulisan Ahmad Mansur Suryanegara, Dawam Rahardjo, juga Nurcholish Madjid. 

Beberapa judul kolom yg masih saya ingat ialah yg ditulis secara bersambung oleh Emha Ainun Nadjib “Mereka Mencari Rumus Tuhan”, kolom Emha lain “O, Khatibku” kritiknya terhadap para Khatib yang setiap Jumat nyaris saya ingat kolom ini. 

Ahmad Tohari menulis kolom “Mencukur Kumis” pada era ketika kejahatan disorot, bahwa kejahatan itu  seperti kumis, kalau tidak rajin dicukur, pasti tambah lebat, menjadi jadi.

 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement