Kamis 13 Oct 2022 14:53 WIB

Mencetak Generasi Cakap Digital

Pemahaman akan literasi digital juga menjadi salah satu fokus G20.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Muhammad Fakhruddin
Mencetak Generasi Cakap Digital (ilustrasi).
Foto: ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo
Mencetak Generasi Cakap Digital (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,SURABAYA -- Di tengah pesatnya perkembangan tekonologi, kecakapan digital menjadi bekal yang sangat dibutuhkan. Hal itu lah yang membuat berbagai pihak turut mengambil peran dalam menumbuhkan literasi digital. Seperti yang digencarkan Pemkot Surabaya dengan menggelar Kelas Literasi Digital, yang sasarannya adalah pelajar SMP.

Kepala Diskominfo Kota Surabaya M. Fikser berharap, kegiatan tersebut dapat mengembangkan kemampuan literasi digital pada generasi muda khususnya di Kota Pahlawan. Tujuan akhirnya, generasi muda dapat memanfaatkan ruang digital dengan maksimal dan menghindari adanya dampak negatif dari kurangnya pemahaman tentang literasi digital.

Baca Juga

"Tujuannya untuk meningkatkan kreativitas dan keterampilan pelajar dalam ruang pembelajaran digital. Agar pelajar dapat memahami dan menerapkan etika di ruang digital saat berkomunikasi. Serta, pelajar dapat melakukan interaksi dan transaksi elektronik penuh dengan tanggung jawab, integritas, sesuai aturan," kata Fikser, Kamis (13/10).

Dalam Kelas Literasi Digital, Diskominfo Surabaya memberikan lima materi. Materi yang disampaikan kepada ratusan pelajar SMP itu meliputi Budaya Digital, Etika Digital, Keterampilan Digital, Keamanan Digital, dan Keren Bercakap Digital serta Inovasi Digital.

Ketua TP PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani yang turut menjadi pemateri, memberi pengarahan cara bijak menggunakan platform digital mulai dari sosial media (sosmed) dan lain sebagainya. Pemahaman tersebut dirasa penting lantaran dunia digital diibaratkannya pisau bermata dua. Bisa membawa manfaat dan bencana apabila tidak dipergunakan secara bijak.

Rini mengingatkan pelajar sebagai generasi penerus bangsa untuk bisa memanfaatkan platform digital dalam kegiatan positif. Misal, digunakan untuk belajar, sarana kreativitas, atau tempat bersosialisasi. "Boleh kalian main TikTok, namun itu dimanfaatkan untuk kegiatan positif dan digunakan sebijak mungkin," ujarnya.

Rini meyakini, siswa yang mengikuti Kelas Literasi Digital bisa memanfaatkan digital secara tepat dan bijak. Ia juga berharap, ilmu literasi digital yang disampaikan pemateri dapat bermanfaat dan dijadikan sebagai pedoman ketika menggunakan sosial media.

"Agar semakin barokah, bisa disampaikan ke saudara, teman sekelasnya, atau kepada tetangganya ketika bermain di rumah," kata Rini.

Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi, Herry Darmawan dalam materinya lebih fokus pada penjelasan mengenai 4 Pilar Literasi Digital. Yakni, pembahasan mengenai skil atau kecakapan, budaya, etika, dan keamanan dalam dunia digital. Ia menjelaskan, keempat hal tersebut memiliki hubungan yang berkaitan.

“Bagaimana kita sebagai warganet bisa memiliki etika yang baik di dunia digital. Karena kita ingin mengubah gambaran netizen Indonesia yang dikenal cukup kejam di dunia maya, maka mereka harus paham bahwa baik dunia maya dan dunia nyata juga memiliki kesamaan perilaku,” kata Herry.

Pemahaman akan literasi digital juga menjadi salah satu fokus Kelompok Dua puluh atau G20. Melalui delegasi Digital Economy Working Group (DEWG) G20 berupaya mengatasi kesenjangan digital dengan membahas perangkat untuk mengukur keterampilan dan literasi digital.

"Terlepas dari masalah kesenjangan digital, literasi digital adalah alat pemberdayaan untuk mencapai pembangunan ekonomi digital yang lebih inklusif," kata Alternate Chair DEWG G20, Dedy Permadi.

Pandemi Covid-19 dirasa negara-negara peserta G20 telah mempercepat adopsi teknologi berbasis internet sekaligus mengungkap isu kesenjangan digital. Setiap negara memiliki tantangan dalam memenuhi infrastruktur dan layanan digital, akses dan perangkat jaringan yang terjangkau, dan keterampilan dan literasi digital.

Negara-negara anggota G20 merasa memiliki kebutuhan untuk meningkatkan keterampilan dan literasi digital tersebut. "Seiring dengan meningkatnya permintaan akan keterampilan dan literasi digital, peningkatan pengukuran dan melengkapi kesenjangan pengukuran yang ada dari perangkat digital sebelumnya menjadi relevan," kata Dedy.

DEWG G20 pun telah menggelar lokakarya dengan kesimlulan empat hal yang menjadi perhatian anggota delegasi. Pertama, anggota G20 menghargai dan mendukung upaya Presidensi G20 Indonesia dalam mengembangkan perangkat dan mengukur keterampilan dan literasi digital.

Kedua, perangkat pengukuran atau toolkit diformulasikan untuk mengakomodasi konteks sosial dan ekonomi setiap anggota G20. "Selanjutnya, anggota G20 dapat memodifikasi indikator berdasarkan prioritas mereka saat ini," kata Dedy.

Ketiga, menghargai perhatian akan aspek metodologi dan kemampuan menjangkau masyarakat marginal. Menurut Dedy, ada sejumlah kekhawatiran soal metodologi dan kemampuan perangkat pengukuran beradaptasi untuk menjangkau kelompok marginal dan penerapannya di negara berkembang. Keempat, delegasi DEWG G20 mengakui keberadaan instrumen untuk mengukur keterampilan dan literasi digital.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement