Selasa 01 Dec 2020 17:41 WIB

Komisi VI DPR RI Dukung RDMP Kilang Balongan

RDMP RU VI Balongan ini akan melalui tiga fase.

Suasana malam kilang minyak Balongan, Indramayu, Jawa Barat.
Foto: Antara/Paramayuda
Suasana malam kilang minyak Balongan, Indramayu, Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON - Komisi VI DPR RI memberi dukungan penuh proyek pengembangan kilang Refinery Unit VI Balongan. Pengembangan Refinery Development Master Plan (RDMP) RU VI Balongan ini akan melalui tiga fase.

Demikian terungkap saat Wakil Ketua Komisi VI Martin Manurung saat melakukan kunjungan kerja spesifik ke Cirebon, Jawa Barat.  Manurung menjelaskan, bahwa kunjungan tersebut merupakan salah satu wujud pengawasan terhadap kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN). 

“Kami melihat di saat pandemi ini begitu banyak berdampak pada pertumbuhan ekonomi hingga kuartal 2 tahun 2020 yang mencatat minus 5,32 persen, artinya Indonesia masuk masa resesi,” ujarnya.

Dikatakannya, BUMN merupakan sumber pedapatan negara dan berperan sangat vital untuk pemulihan ekonomi nasional. “Kami ingin mengetahui kondisi, persoalan dan tantangan yang dihadapi, termasuk roadmap dalam meningkatkan kontribusi dan produksi BUMN tersebut, walaupun BUMN juga terdampak pandemi,” katanya dalam keterangannya yang diterima Republika, Selasa (1/12).

Dia menyampaikan harapannya terhadap perkembangan pembangunan proyek peningkatan kilang RU VI Balongan. “Berharap selain meningkatkan nilai tambah bagi Pertamina, hal ini bisa berdampak pada kesejahteraan masyarakat di sekitar area operasi kilang,” ujar Manurung.

Direktur Proyek Infrastruktur PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Suwahyanto didampingi GM RU VI Hendri Agustian menjelaskan, pengembangan RDMP RU VI Balongan akan melalui tiga fase. Yakni fase 1 meningkatkan kapasitas RU VI balongan dari saat ini 125 ribu barel per hari menjadi 150 ribu barel per hari. Fase 2 adalah mulai produksi pada 2022 mendatang. Fase 3 adalah membangun pengembangan komplek kilang terintegrasi petrokimia yang diharapkan selesai tahun 2026.

“Setelah proyek selesai, maka produksi gasoline (Pertalite, Pertamax, Pertamax Turbo) menjadi 18 juta liter per hari, Gasoil (Biosolar, Dexlite, Pertamina DEX) menjadi 6,8 juta liter per hari. Sedangkan avtur menjadi 20 juta liter per hari, gasoline merupakan kebutuhan terbesar bagi masyarakat,” ujar Suwahyanto.

Direktur SDM Pertamina Koeshartanto memberi apresiasi kepada Komisi VI karena sudah mau melihat Pertamina menjalankan berbagai proyek strategis nasional. “Dukungan dari DPR RI tentu sangat penting bagi kelangsungan proyek-proyek yang sedang berjalan, termasuk support terhadap kinerja Pertamina yang terkena triple shock, namun Pertamina terus melakukan berbagai terobosan untuk terus meningkatkan kinerja perusahaan,” kata Koeshartanto. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement