Kamis 13 Feb 2020 20:20 WIB

Bantuan Pembaca Republika Sampai ke Pesantren Terisolir

Republika menyalurkan bantuan dari pembaca ke empat pesantren.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ani Nursalikah
Warga membawa bantuan untuk Pondok Pesantren Riadul Mubtadiin di Kampung Ciparempeng, Desa Cileuksa, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/2).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Warga membawa bantuan untuk Pondok Pesantren Riadul Mubtadiin di Kampung Ciparempeng, Desa Cileuksa, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/2).

REPUBLIKA.CO.ID, SUKAJAYA -- Republika menyalurkan bantuan dari pembaca ke Pesantren Riadul Mubtadiin korban longsor di Kampung Ciparengpeng, Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Kamis (13/2). Ada sebanyak 67 santri dan 250 keluarga atau 744 jiwa di kampung yang masih terisolir ini.

Untuk sampai ke Kampung Ciparengpeng, tim Republika harus melewati jalan darurat yang baru saja dibuat untuk mengganti jalan yang tertimbun dan amblas akibat longsor. Tim harus melewati jalan tanah dan berbatu yang konturnya naik, turun dan licin sejauh sekitar tujuh Km.

Baca Juga

Kemudian tim harus berjalan kaki sejauh sekitar tiga Km untuk sampai Kampung Ciparempeng. Kontur jalannya naik turun dengan kemiringan 45 derajat dan sempit menyerupai jalan setapak. Bahkan tim Republika harus beberapa kali menyeberangi jembatan darurat yang terbuat dari bambu dan kayu.

Wakil Pemimpin Redaksi Republika, Nur Hasan Murtaji mengatakan, Republika menyalurkan bantuan dari pembaca berupa uang tunai sebesar Rp 50 juta ke empat pesantren. Selain itu menyalurkan bantuan berupa Alquran, Juz Amma dan alat tulis.

Bantuan selain disampaikan ke Pesantren Riadul Mubtadiin juga ke Pesantren Nurul Ulum dan Al-Hikmah di Kampung Sajira Barat, serta ke Pesantren Nurul Ulum di Kampung Sajira Timur, Desa Sajira Mekar, Kecamatan Saira, Kabupaten Lebak, Banten. Semua bantuan itu diharapkan dapat membantu berjalannya kegiatan belajar dan mengajar di pesantren yang tertimpa musibah bencana alam.

photo
Direktur Operasional Republika Arys Hilman Nugraha (tengah) bersama Pondok Pesantren Riadul Mubtadiin Ustaz Ujang Edo (kanan) melihat kondisi pondok pesantren yang hancur di Kampung Ciparempeng, Desa Cileuksa, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/2).

"Jadi bantuan dari pembaca Republika di serahkan kepada empat pesantren, satu pesantren ada di Kabupaten Bogor dan tiga pesantren lainnya ada di Kabupaten Lebak," kata Hasan di Kampung Ciparengpeng, Kamis (13/2). 

Republika menyampaikan terima kasih kepada seluruh pembaca yang memiliki jiwa sosial tinggi. Wakil Pimpinan Redaksi Republika berharap semangat solidaritas dan upaya saling membantu ini dapat terus berjalan dalam rangka membantu kegiatan belajar dan mengajar di pesantren.

Hasan mengungkapkan, kondisi pesantren yang tertimpa musibah sejak awal Januari kondisinya masih sangat memprihatinkan. Ia berharap sumbangan dari pembaca Republika bisa kembali mengaktifkan kegiatan belajar dan mengajar di pesantren-pesantren yang tertimpa bencana longsor dan banjir.

"Bantuan ini adalah bentuk kepedulian dari para pembaca Republika, kami berharap bantuan ini bisa menjadi amal jariyah bagi semuanya, mudah-mudahan setelah bantuan ini disalurkan dapat mengetuk hati pembaca yang lain untuk ikut serta membantu saudara kita yang masih kesulitan akibat terdampak bencana," ujarnya.

Pimpinan Pesantren Riadul Mubtadiin, Ustaz Ujang Edo menceritakan, ada sebanyak 67 santri yang rutin belajar mengaji. Di antaranya terdapat 37 santri yang mondok di pesantren. Sekarang mereka semua pulang ke rumah masing-masing karena tidak bisa mondok di pesantren lagi.

photo
Seorang warga mengangkut meja di pondok pesantren yang hancur akibat bencana alam di Kampung Ciparempeng, Desa Cileuksa, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/2).

Kondisi bangunan pesantren terancam longsor dan dindingnya jebol akibat longsor. Kini santri banyak yang tidak bisa melaksanakan kegiatan belajar. Hanya sekitar sepuluh santri yang masih ikut belajar di rumah warga yang lokasinya cukup aman.

"Santri yang lain pulang ke rumah masing-masing, mereka kalau hujan takut terjadi longsor lagi, jadi mereka belum semuanya bisa ikut kegiatan mengaji lagi," ujar Ustaz Ujang.

Ustaz Ujang memiliki impian dan cita-cita untuk kembali membangun pesantren di lokasi yang lebih aman. Semangatnya mengajari anak-anak mengaji dan ilmu agama tidak surut meski pesantrennya telah rusak akibat bencana.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement