Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Hikmah Lintas Sejarah Fikih Ikhtilaf

Kamis 23 Jan 2020 15:03 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil

Hikmah Lintas Sejarah Fikih Ikhtilaf. Foto: Sejumlah buku-buku Islami termasuk kitab usul fikih yang dipajang di sebuah toko buku.

Hikmah Lintas Sejarah Fikih Ikhtilaf. Foto: Sejumlah buku-buku Islami termasuk kitab usul fikih yang dipajang di sebuah toko buku.

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Perbedaan dalam fikih ikhtilaf tetap memiliki dasar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dari berbagai masalah fikih ikhtilaf yang terjadi pada masa Nabi Muhammad hingga sekarang ada hikmah yang dapat dipetik oleh umat Islam. Salah satu hikmah fikih ikhtilaf tersebut adalah dapat membuat ajaran Islam menjadi luas.

Ustaz Ahmad Sarwat mengatakan, hikmah adanya fikih ikhtilaf tersebut sebagaimana yang dikatakan khalifah yang kelima dalam Islam, yaitu Umar bin Abdul Azis. Menurut Ustaz Sarwat, Umar bin Abdul Azis merasa bahagia melihat para sahabat yang banyak berbeda pendapat dalam masalah fikih.

"Beliau bukannya sedih tapi malah berbahagia. Kenapa berbahagia dengan adanya perbedaan para sahabat, karena Islam itu menjadi luas," ujar Ustaz Sarwat kepada Republika beberapa waktu lalu.

Artinya, lanjut dia, ketika umat Islam mencoba memahami persoalan fikih banyak pendapat yang bisa dijadikan rujukan, sehigga umat Islam tidak saling mengklaim merasa paling benar dalam memahami ajaran Islam. Karena, masing-masing mempunyai dasar.

"Karena para sahabat sendiri masing-masing juga berbeda pendapat. Dari awal mereka juga sudah berbeda pendapat," ucapnya.

Sementara, Nabi Muhammad sendiri telah menyatakan dalam sebuah hadis agar selalu bepegang teguh kepada sunah Rasul dan sunnah para sahabatnya. "Nah, para sahabat nabi itu adalah ibarat bintang-bintang yang ada di langit. Dari yang manapun bintang itu yang kamu ikuti kamu sudah mengikuti aku juga," kata Ustaz Sarwat.

"Jadi hikmahnya adalah Islam itu menjadi sangat luas. Kita bisa berbeda pendapat yang sangat ekstrem 180 derajat perbedaannya. Tapi kita tetap sama-sama dalam satu koridor Islam juga," tegasnya.

Namun, tambah dia, ada juga perbedaan pendapat para ulama yang tidak baik juga, seperti halnya perbedaan dalam masalah penyimpangan aqidah yang paling mendasar.

"Seperti halnya Syi'ah bilang bahwa oh Jibril salah menurunkan wahyu, harusnya kepada Ali ternyata kepada Muhammad. Nah itu bukan khilafiyah, tapi penyimpangan kalau masuk pada wilayah yang paling dasar seperti itu," jelas Ustaz Sarwat.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA