Jumat 22 Nov 2019 16:00 WIB

Muslim Kenya Lestarikan Hutan dengan Budi Daya Kupu-Kupu

Kupu-kupu dikenal sebagai spesies hewan dari ekosistem hutan.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Agung Sasongko
Kupu-kupu ilustrasi
Foto: Republika/Imas Damayanti
Kupu-kupu ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,MOMBASA -- Kupu-kupu dikenal sebagai spesies hewan yang merupakan bagian dari ekosistem hutan, selain juga dapat bernilai ekonomis. Muslimah di Desa Gede, Pantai Timur Kenya dikenal dengan budidaya kupu-kupunya. 

Selain kupu-kupu, desa Gede juga terkenal dengan reruntuhan kuno yang terdiri dari rumah-rumah mewah, masjid, dan rumah-rumah yang diperkirakan berusia sekitar 800 tahun. Namun siapa disangka jika minat Muslimah tersebut dilirik oleh salah satu perusahaan asal desa tersebut guna menggarap proyek yang disebut Proyek Kipepeo. 

Proyek ini mendukung mata pencaharian masyarakat menjual kupu-kupu dan ngengat pupa yang berkualitas tinggi dan beragam ke pasar internasional. Dilansir dari AA, sebagian besar pangsa pasar kupu-kupu Kenya berasal dari Eropa dan Amerika. Sedangkan pasar terbesarnya adalah Inggris dan Turki. 

Sebagian besar dari Muslimah tersebut bermata pencaharian budidaya kupu-kupu. Seperti Rehema Hassan misalnya yang fokus menjalankan budidaya kupu-kupu dan menjalankan bisnis untuk membayar biaya sekolah untuk anak-anak mereka dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Dalam aktivitaenya, para Muslimah ini dilengkapi dengan peralatan berburu kupu-kupu. Beberapa dari mereka meletakkan perangkap di pohon sementara yang lain menggunakan jaring buatan sendiri dengan pegangan.

Mereka menjelajahi hutan mencari kupu-kupu, berhati-hati untuk menghindari banyak koridor gajah. Hassan mengatakan bahwa dalam perburuan hal yang selalu diingatadalah tidak melukai kupu-kupu dengan menggunakan jaring murah. Dia mengatakan bahwa di masa lalu, dia biasa menjual kayu bakar dan arang. 

“Saya dulu mengandalkan bisnis arang. Saya akan menebang pohon, nanti hutan kami rusak. Tapi dengan budidaya kupu-kupu, kami dapat pendapatan dan sekarang saya melestarikan lingkungan saya karena tanpa pohon-pohon berbunga, tidak akan ada kupu-kupu,” kata Hassan. 

Saat diwawancarai, Hassan berjuang untuk menangkap seekor kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya di dalam perangkap kupu-kupu yang diam. Setelah beberapa detik, dengan gerakan yang lembut, tangannya menunjukkan cahaya warna-warni dari kupu-kupu Charaxes yang menari. 

Dia dengan hati-hati menempatkan serangga yang rapuh itu dalam keranjang yang mirip jaring di mana kupu-kupu itu bergabung dengan selusin kupu-kupu lainnya yang semuanya berwarna-warna cerah. Anggota baru yang haus melipat sayapnya dengan lembut ke atas dan minum nektar dari bunga segar yang telah disiapkannya pagi itu.

Tepat di samping kupu-kupu adalah demodocus Papilio, atau jeruk walet. Itu mengepakkan sayap putih polkadot diisi dengan dua bintik semerah ceri dan memudar tepi hitam.

Hassan menjelaskan bahwa bagi mereka, bisnis kupu-kupu adalah tentang konservasi. “Hutan kita sekarang adalah tempat di mana kita melestarikan dan melindungi. Mereka membutuhkan kita sama seperti kita membutuhkan mereka. Dua anak saya kuliah di universitas melalui bisnis ini. Itu sebabnya bagi kami, kupu-kupu adalah segalanya," ungkapnya. 

Tidak ada hutan, tidak ada kupu-kupu 

Kisah lainnya tentang manfaat melestarikan hutan juga ditorehkan Fatuma Hamisi. Dia memberi tahu Agensi Anadolu bagaimana keseluruhan proses budidaya kulu-kupu itu berlangsung. 

“Kami memasang perangkap di hutan untuk menangkap kupu-kupu. Kami memberi mereka makan sampai mereka bertelur, yang menetas menjadi ulat. Ulat memakan daun hutan sampai mereka berubah menjadi pupa, di mana mereka jadi kepompong sendiri. Pada titik inilah kami menjualnya sebelum mereka menetas menjadi kupu-kupu," katanya. 

Dia mengungkapkan bahwa budidaya kupu-kupu dilakukan dapat melindungi hutan. Hal itu karena tidak ada hutan, maka tidak akan ada kupu-kupu. Hamisi menyebut bahwa sebagian besar dari mereka melepaskan kupu-kupu yang meletakkan telur ke alam liar karena mereka membutuhkan waktu lama untuk bertelur lagi, terutama di dalam kurungan. 

Charo Ngumbao, yang mengepalai proyek komunitas budidaya ini mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pasar utama mereka adalah Inggris sedangkan pasar kedua yang saat ini mengambil kepompong kupu-kupu adalah Turki. 

“Mereka memiliki permintaan tinggi untuk spesies kupu-kupu Papillion dan Charaxes. Saat ini, mereka (Turki)  mengambil kupu-kupu setiap hari Senin, dan Amerika mengambil kupu-kupu pada hari Jumat," katanya. 

Berdasarkan catatannya, aktivitas ekspor dilakukan dua pekan sekali. Sebagai catatan, kupu-kupu biasanya hidup selama beberapa minggu tergantung pada spesies, ukuran, dan lingkungannya. Menurutnya terdapat permintaan tinggi karena umur simpan kupu-kupu yang pendek. 

Sedangkan berdasaekan Program PBB tentang Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (UN-REDD), tujuan utama proyek ini adalah untuk menghubungkan pengembangan dan konservasi kawasan hutan. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement