Kamis 12 Dec 2019 18:21 WIB

Latar Belakang Kunci Pengembangan Diri Anak Sesuai Fitrah

Latar belakang dan minat anak berbeda dengan anak lainnya.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Ani Nursalikah
Latar Belakang Kunci Pengembangan Diri Anak Sesuai Fitrah. Foto ilustrasi anak bermain.
Foto: Thoudy Badai_Republika
Latar Belakang Kunci Pengembangan Diri Anak Sesuai Fitrah. Foto ilustrasi anak bermain.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Indonesia Bermutu (IB) Jaka Warsihna menyebut, dalam mendidik dan mengembangkan potensi anak, seorang guru harus mengetahui latar belakang anak didiknya. Informasi awal perihal minat dan bakat atau fitrah anak merupakan modal dan kunci utama.

"Berbicara tentang anak, yang paling tahu fitrah anak adalah orang tua. Jika anak dititipkan ke sekolah untuk dididik, maka kontraknya harus jelas. Apa tujuan dan harapan orang tua menitipkan anaknya di sekolah," ujarnya dalam kegiatan Seminar Nasional Pendidikan Berbasis Fitrah bagi Usia Dini di Gedung Puskurbuk Balitbang Kementerian Pendidikan, Kamis (12/12).

Baca Juga

Jaka mengingatkan jangan sampai visi dan misi yang dimiliki sekolah dan orang tua berbeda. Dialog antara dua pihak dibutuhkan agar tahu apa yang harus dilakukan untuk membimbing generasi muda Indonesia ini.

Sekolah saat ini disebut sudah seperti pabrik dimana sekolah mencetak hasil yang sama, padahal fitrahnya setiap anak berbeda. Input yang berbeda karena latar belakang dan minat bakat yang berbeda jangan sampai hasil akhirnya menjadi sama.

"Sekolah betul-betul harus melihat portofolio anak secara detail. Background anak harus dilihat betul. Contoh paling sering saat ini, anak bakatnya menyanyi dan mau jadi penyanyi, tapi dipaksa menjadi ahli matematika. Ini malah hasilnya tidak ada," ucapnya.

Catatan portofolio anak harus melihat secara menyeluruh dari sisi kognitif, psikomotorik, dan afektif. Dalam perjalanan pembelajaran, laporan perkembangan anak juga harus terus dilakukan. Cara-cara ini disebut dapat memperkaya minat dan bakat anak.

Ia menyebut model pembelajaran di sekolah bagi anak usia dini seperti PAUD dan TK harus berbasis aktivitas. Aktivitas dilakukan semudah mungkin agar bisa diikuti oleh anak-anak. Bahkan lebih bagus jika aktivitas itu bisa membentuk akhlak dan karakter anak.

"Misal, dalam aktivitas sosial, ditumbuhkan kepedulian pada anak-anak, kepedulian sosial. Ini nanti akan membentuk karakter. Pembelajaran yang bermakna sesuai dengan konteksnya," ucapnya.

Tugas utama guru adalah membaca pikiran siswa-siswinya. Tugas guru membantu orang tua bermain di pikiran anak untuk mewujudkan cita-cita mereka. Bakat dan  minat anak harus dikembangkan sesuai konteksnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement