Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Global Wakaf-ACT Luncurkan Lumbung Beras Wakaf di Blora

Rabu 04 Dec 2019 18:46 WIB

Rep: Binti Sholikah/ Red: Yusuf Assidiq

Logo Aksi Cepat Tanggap (ACT)

Logo Aksi Cepat Tanggap (ACT)

Foto: dok. ACT
LBW hadir sebagai program pengadaan beras untuk kebutuhan kemanusiaan.

REPUBLIKA.CO.ID, BLORA -- Global Wakaf - Aksi Cepat Tanggap (ACT) meluncurkan Lumbung Beras Wakaf (LBW) di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Rabu (4/2). Peluncuran LBW tersebut untuk menguatkan ketahanan pangan di Indonesia.

Pada peluncuran itu, LBW mendistribusikan 5 ton beras kepada 1.000 warga prasejahtera di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. Menurut Ketua Dewan Pembina ACT, Ahyudin, LBW hadir sebagai program pengadaan beras untuk kebutuhan-kebutuhan kemanusiaan. Misalnya pada kondisi bencana maupun untuk warga prasejahtera.

Program LBW memiliki gudang logistik dan peralatan produksi beras untuk mengolah beras-beras berkualitas petani di Blora.  "Aktivitas LBW juga memberdayakan petani-petani lokal. Kehadiran LBW merupakan hasil pengelolaan aset wakaf produktif yang diamanahkan kepada Global Wakaf sebagai nazir," katanya.
 
Dia mengatakan, Lumbung Beras Wakaf hadir menjawab permasalahan umat, yakni kemiskinan dan ketahanan pangan. Kemiskinan dan kondisi ekonomi negeri yang belum membaik, menjadikan sebagian masyarakat sulit dalam menopang kebutuhan hidup sehari-hari terutama terkait kebutuhan pangan.

Menurut dia, Lumbung Beras Wakaf menjadi salah satu program unggulan lembaga untuk menggerakkan kepedulian umat dalam mengatasi masalah pangan dari sisi hulu, didukung dengan kehadiran armada Humanity Rice Truck dan Humanity Food Truck untuk di sisi hilirnya.

"Kami ingin terus mengedukasi masyarakat terkait sistem pengelolaan wakaf produktif bagi para petani guna meningkatkan perekonomian," terang Ahyudin.

Saat ini, program telah dikelola oleh mayoritas para petani kecil yang ada di Desa Jipang. Mayoritas dari 2.200 penduduk Desa Jipang bekerja sebagai buruh tani. Ketika waktu panen selesai, para buruh tani tidak memiliki pekerjaan lain. "Melalui program ini, para petani Desa Jipang tidak perlu lagi menjual gabah hasil panen ke tengkulak. Harga gabah ditetapkan sesuai dengan kesepakatan antara pengurus LPW dengan petani," imbuhnya.

Direktur Program ACT, Wahyu Novyan, menambahkan keberadaan Lumbung Pangan Wakaf (LPW) sebagai induk program dari LBW berupaya meningkatkan kesejahteraan petani dengan melakukan beberapa tahapan. Pertama, penyediaan lahan pertanian. Wakaf pangan mencoba menjaga lahan agar tidak dialihfungsikan ke hal lain dengan jaminan status wakaf lahan.

Kedua, Global Wakaf melakukan pembelian hasil panen di atas harga pasar sehingga lebih menguntungkan petani.
"Ketiga, kami lakukan pendampingan petani, seperti budidaya pertanian berupa standardisasi benih, pengolahan lahan, penanaman dan perawatan serta pengolahan pascapanen. Keempat, pendirian Lembaga Keswadayaan Wakaf Desa (LKWD). Selain itu, kami juga menyediakan pabrik pengolahan padi berupa huller and drying," ujarnya.

Data dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang menunjukkan dalam enam tahun terakhir (2013-2018) luas baku sawah secara nasional menyusut cukup signifikan, 8,32 persen atau sekitar 645 ribu hektare. Sedangkan luas area cetak sawah baru pada 2014-2018 hanya sekitar 215 ribu hektare.

Sedangkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan luas lahan sawah pada 2018 tinggal 7,1 juta hektare, turun dibanding 2017 yang masih 7,75 juta hektare. Indonesia berada di urutan 73 di dunia dengan tingkat kelaparan kategori serius, 10,8 juta penduduk miskin kategori ekstrim, dan 2,02 persen kenaikan harga bahan pangan pada 2019.

Kondisi di atas dikhawatirkan dapat mengancam ketahanan pangan nasional. Untuk menjaga ketersediaan pangan dan mencegah alih fungsi lahan, Global Wakaf-ACT mempelopori berdirinya Lumbung Pangan Wakaf (LPW) sebagai induk program dari Lumbung Beras Wakaf (LBW). Prinsip LPW menggunakan wakaf sebagai penggerak dengan menjaga hasil panen dan kesinambungan lahan yang tidak boleh dialihfungsikan untuk kebutuhan lainnya.

Dengan tanah kelola seluas 98 hektare di Blora, program Lumbung Beras Wakaf (sub-program LPW) akan mendukung beberapa program pangan seperti Beras untuk Santri (BERISI) untuk memenuhi kebutuhan beras di pesantren-pesantren, Humanity Rice Truck yang akan mendistribusikan beras bagi keluarga prasejahtera, memberikan makanan siap santap bagi masyarakat prasejahtera, serta untuk menyuplai kebutuhan Ritel Wakaf untuk diperjualbelikan kepada publik.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA