Kamis 05 Dec 2019 14:42 WIB

BKMM DMI: Mengapa Aturan Hanya untuk Majelis Taklim?

PMA Majelis Taklim, Nurdiati mengungkapkan, seolah-olah umat Islam radikal.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ani Nursalikah
PMA Majelis Taklim, Nurdiati mengungkapkan, seolah-olah umat Islam intoleransi dan radikal. Foto ilustrasi pengajian majelis taklim.
Foto: Dok BMH
PMA Majelis Taklim, Nurdiati mengungkapkan, seolah-olah umat Islam intoleransi dan radikal. Foto ilustrasi pengajian majelis taklim.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Agama (Kemenag) mengeluarkan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 29 Tahun 2019 tentang Majelis Taklim. Pimpinan Pusat Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid-Dewan Masjid Indonesia (PP BKMM DMI) mempertanyakan kenapa PMA itu hanya dibuat untuk umat Islam.

Ketua Umum PP BKMM DMI Nurdiati Akma menyampaikan terima kasih atas aturan yang telah dibuat oleh Kemenag. Tapi kenapa aturannya hanya untuk majelis taklim umat Islam saja. Apakah agama-agama lain tidak ada semacam majelis taklimnya.

Baca Juga

"Kenapa harus Islam yang dikejar, ini yang membuat tanda tanya saya, ini pasti larinya mau ke radikal, masalah radikal dan masalah toleransi," kata Nudiati kepada Republika.co.id, Kamis (5/12).

Nurdiati mengungkapkan, seolah-olah umat Islam ini intoleransi dan radikal. Dia menegaskan, umat Islam di Indonesia sudah sangat toleransi. Contoh betapa toleransinya umat Islam Indonesia adanya libur nasional hari raya umat Hindu yang jumlahnya minoritas.

Selain itu, ada libur nasional hari raya umat beragama lain. Masyarakat Muslim sebagai mayoritas ikut libur nasional untuk menghormati hari raya mereka yang minoritas. Umat Islam tidak pernah protes terkait hal ini.

Ia mengatakan, bandingkan toleransinya umat Islam di Indonesia dengan Australia. Di Australia tidak ada libur hari raya Idul Fitri. "Hebat Indonesia, sudah sangat toleransi kita, saya pernah ikut seminar ada orang Thailand, Singapura, Malaysia mengatakan umat Islam Indonesia sangat toleransi," ujarnya.

Tetapi, Nurdiati prihatin karena di dalam negeri sendiri umat Islam Indonesia dikatakan intoleransi. Terkait masalah radikalisme, menurutnya kalau tidak ada radikalisme, Indonesia tidak akan merdeka. Gara-gara radikalisme, Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol mengangkat senjata.

Mereka mengangkat senjata karena ada perintah Allah untuk melawan kezaliman dan penjajahan. Jadi radikalisme itu jangan ditujukan kepada Islam saja.

"Saya sedih, kalau mau dibuat PMA, jangan hanya untuk majelis taklim Islam saja, janganlah kita umat Islam menyudutkan umat Islam sendiri, saya sedih," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement