Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Majelis taklim

Izin Majelis Taklim: Ingat Orde Lama dan Baru, Hingga Petrus

Selasa 03 Des 2019 04:27 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Majelis Taklim Muslimat NU 1971.

Majelis Taklim Muslimat NU 1971.

Foto: Google.com
Ingat Orde Lama dan Baru, Hingga Petrus

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Pada akhir 1970-an adalah masa bocah saya. Setiap sebelum tidur seringkali ditiup sekitar cerita horor dekade 1965 bersama legenda wayang dan kancil yang mencuri ketimun. Kala itu rumah kami di depan masjid. Tak jauh dari masjid ada rumah seorang priyayi yang cukup luas. Saya ingat di depannya ada pohon sawo.

''Dulu sebelum meletusnya pemberontakan PKI 1965 di dalam rumah itu ramai orang gali lobang. Anehnya sampai pemberontakan usai galian itu tetap belum ditutup. Penguninya kabur?'' kata ibu.

"Itu rumah siapa", tanya saya. Ibu menjawab pendek menyebut nama seseorang.''Dia anggota partai berlambang palu arit,'' tukas ibu. Saya kecil yang baru kelas lima SD saat itu tak terlalu 'ngeh' dengan apa itu partai berlambang palu arit. Malah saya berpikir keren partainya sebab memakai warna merah dan ada lambang alat kerja untuk bertani di sawah.

Ibu saya yang seorang guru kemudian melanjutkan cerita. Katanya, pada suatu siang sebelum geger 1965, murid-muridnya di sekolah ribut memperbincangkan adanya lobang tanah di dalam rumah yang tengah digali. Para siswa ketika ditanya mengaku bila ada di tempat itu memang orang yang tengah mencari emas.

Mendengar jawaban para muridnya, ibu saya waktu itu berpikir hal itu masuk akal sebab tanah di sekitar kawasan rumah adalah berbatu dan tidak keluar mata air ketika digali untuk lubang sumur. Maklum tanah pegunungan yang penuh bebatuan. Akibatnya, untuk mencukupi konsumsi air bersih warga harus mencarinya dari 'Kali Datar dan Kali Tengah -- sungai yang mengalir di tengah dan di dekat perkampungan.

"Ibu bersama anak-anak sekolah pergi ke sana untuk melihatnya. Dan benar, banyak orang yang tengah menggali lobang. Para pekerja berteriak agar jangan ada yang mendekat. Bahkan, sempat ada yang menghardik kalau yang mendekat akan diceburkan ke lobang sekalian,'' kata ibu.

Nah, waktu kemudian berlalu. Perkara lobang galian di dalam rumah tak menjadi soal. Terlupa. Apalagi sang pemilik rumah juga orang sangat baik. Dia kawan ayah saya yang Masyumi/NU main catur.Jadi jelas beda ideologi. Kata ayah, sepanjang yang dia tahu sang empu rumah tetangga kami itu getol sekali dalam politik. Setiap malam di beranda rumahnya ramai orang berkumpul melakukan rapat. Bahkan, makin mendekat ke bulan September rapat makin intens, dilakukan tiap malam.

''Ya tak ada perasaan apa-apa. Cuma ayah heran mengapa rapatnya kok pakai penerangan minim, gelap-gelapan. Bahkan saking baiknya, sang pemilik rumah malah berpesan bila nanti ada kabar dari Jakarta, jangan buru-buru ditelan mentah. Itu saja,'' kata Ayah menirukan pesan tetangga kami yang aktivis partai tersebut.

Dan betul, tak lama terjadi keanehan. Kisah ayah, entah mengapa di awal bulan Oktober 1965 tiba-tiba tidak ada bus yang datang dan pergi ke Jakarta. Ini terlihat jelas karena kebetulan rumah saya tak jauh dari terminal. Angkutan bus pergi atau pulang ke Jakarta sampai dua pekan lamanya tak ditemui.

''Kabar berita soal Jakara pun simpang siur. Berita melalui RRI juga tak jelas. Malah saya sempat berfikir Nasution yang memberontak. Eh ternyata PKI,'' kata Ayah mengenangkan.

Een militair bewaakt van communistische sympathieën verdachte gevangenen tijdens de opstand/staatsgreep in Djakarta, Indonesië, 1 december 1965.

Keterangan foto: Para aktivis PKI dalam tahanan masa Orde Baru. (foto:Gahetna.nl).

Uniknya lagi, ayah kemudian menceritakan dengan membenarkan cerita ibu. Katanya, memang sampai beberapa lama lubang di rumah itu dibiarkan begitu saja. Penghuninya ditangkap tentara. Isterinya yang tetangga saya itu bolak balik pergi ke markas kodim setempat untuk menjenguk suaminya yang ditahan. Isterinya saat itu sangat khawatir sebab saat itu tersebar kabar bila beberapa orang tahanan di 'sukabumikan' di sebuah tempat tersembunyi di luar kota.

Tapi kengerian itu, kemudian sempat berganti. Kata ayah, pada saat itu pula tersiar kabar nama-nama yang sebelum geger 1965 sudah dimasukan dalam list untuk masuk ke lobang. Di daftar itu ada nama ayah saya dan seorang kiai yang sangat pintar dan guru bagi penghafal Alquran. Kiai itu bernama Kyai Yusuf, ayahanda mendiang politisi NU Slamet Effendy Yusuf.

''Ternyata saat itu nama saya masuk daftar juga ya,'' katanya ayah saya geleng-geleng kepala.

Namun ayah pun mengaku masuk akal karena bila masuk dalam daftar orang yang harus 'dihabisi'. Ini karena selaku seorang guru dan pegawai negeri yang pada saat itu selalu getol memberi pengajian ke masyarakat tentu dianggap aneh. Bahkan sering disebut sebagai orang 'Islam fanatik' oleh rekan sekerja yang mengaku manusia rasional (materialisme) yang suka mengatakan bahwa tidak ada urusan Tuhan dalam proses pencipataan alam semesta. Mereka selalu mengatakan dunia tercipta dengan sendirinya dari gumpalan gas. Ayah dalam soal ini selalu mendebatnya.

Tapi ayah tak peduli. Bahkan, dalam setiap shalat Jumat dia tetap selalu memberikan khutbah. Risikonya bagi orang awam kampung kami (kota kecil) yang kebanyakan masih 'santri minimalis', tentu saja bila ada seorang pegawai negeri memberikan khutbah Jumat maka itu fenomena yang sangat tidak biasa.

Namun ayah lagi-lagi tak peduli, walau paham risikonya masuk daftar pengkhubtah (kini dai) yang harus diwaspadai oleh sebuah kepentingan dari golongan tertentu.

''Mujur ayah masih hidup. Malah bersama-sama ayah bersama KH Yusuf itu kemudian merintis pendidikan sekolah menengah Islam. Sekolah itu kami beri nama SMP Diponegoro. Kami mendirikannya dari nol seperti mencarikan kayu-kayunya dari pegununungan yang ada di kawasan Gunung Slamet,'' tutur ayah lagi.

Tak beda dengan ayah, ibu saya juga sibuk terjun ke kancah pengajian. Waktu itu aktif di Muslimat NU.''Saya sering ikut pengkaderan ormas wanita itu. Mentor saya Mahbub Junaedi, kolomnis dan pemikir Nahdlatul Ulama,'' kata ibu saya. Dan di kemudian hari saya kemudian melihat beberapa foto ibu yang tengah berapat di sebuah acara itu. Para kaum ibu terlihat berkabaya dan berkerudung.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA