Selasa 19 Nov 2019 21:37 WIB

Akademisi: Deradikalisasi Perlu Gunakan Pendekatan Kultural

Pendekatan kultural untuk menghindari radikalisme baru.

 Densus 88 memeriksa Gardu Induk Tasikmalaya, Senin (21/10).  Pemeriksaan itu terkait penangkapan terduga teroris di Cirebon beberepa  waktu lalu.
Foto: Republika/Bayu Adji P
Densus 88 memeriksa Gardu Induk Tasikmalaya, Senin (21/10). Pemeriksaan itu terkait penangkapan terduga teroris di Cirebon beberepa waktu lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO— Program deradikalisasi perlu memperhatikan berbagai aspek salah satunya aspek kultural.

"Deradikalisasi harus dilakukan dengan memperhatikan banyak aspek, misalnya sisi-sisi kultural jangan sampai deradikalisasi justru memicu radikalisme baru," kata akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Edi Santoso, di Purwokerto, Selasa (19/11).

Baca Juga

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsoed tersebut mengatakan deradikalisasi perlu dilakukan secara komprehensif dengan pendekatan lokal dan kontekstual.

"Deradikalisasi mestinya merupakan kerja-kerja budaya. Kerja budaya itu menimbang banyak aspek. Komprehensif, dengan pendekatan lokal dan kontekstual," katanya.

Koordinator Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Unsoed tersebut mengatakan upaya deradikalisasi bisa dilakukan dengan melibatkan tokoh masyarakat dengan cara persuasif dan pendekatan kultural.

"Deradikalisasi jangan sampai dilakukan dengan cara 'teriak-teriak' karena yang seharusnya dilakukan adalah mendalami masalah, identifikasi akarnya, lalu cari solusi yang tepat," katanya.

Dia menambahkan, radikal sebagai sebuah sikap bisa jadi lahir dari sebab yang sangat kompleks. Radikalisme itu sikap, cara pandang radikal, yang berorientasi pada perubahan mendasar, misalnya bermaksud mengubah sistem yang sudah berjalan. “Bahwa kemudian berkaitan dengan agama, itu menyangkut spirit yang melandasinya. Misalnya, ada yang menafsirkan agama secara radikal, bahwa agama menuntut pemeluknya untuk melakukan perjuangan menerapkan sistem sesuai agamanya," katanya.

Namun menurut dia, tidak ada hubungan langsung antara radikalisme dengan agama, dan juga tidak ada hubungan langsung antara keyakinan fiqih yang berkaitan dengan pakaian dengan sikap radikal.

"Karena itu jangan sampai mudah memberikan cap radikalisme hanya karena tampilan-tampilan fisik yang sifatnya artifisial, sikap sembrono memberikan stigma radikal dikhawatirkan malah memunculkan radikalisme yang sesungguhnya," kata dia.

Selain itu, dia juga menilai radikalisme tidak sama dengan terorisme, namun dia mengakui bahwa terorisme, seringkali berangkat dari pemikiran radikal. "Nah, upaya deradikalisasi sejatinya adalah ikhtiar untuk meluruskan pandangan yang berpotensi menciptakan konflik horisontal," katanya.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement