Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Mengalirnya Pisang-Pisang Pulau Sebesi Usai Tsunami

Senin 07 Oct 2019 08:35 WIB

Red: Budi Raharjo

Pisang-pisang hasil panen petani Pulau Sebesi dijual ke Jabodetabek.

Pisang-pisang hasil panen petani Pulau Sebesi dijual ke Jabodetabek.

Foto: Republika/Mursalin Yasland
Masyarakat Pulau Sebesi rata-rata bekerja utamanya sebagai nelayan dan petani.

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh Mursalin Yasland

Gelombang tsunami Selat Sunda tak menghancurkan dermaga kecil Kapal Motor Penumpang (KMP). Warga Dusun III Regahan Lada, Desa Tejang, Pulau Sebesi, Kabupaten Lampung Selatan, sangat bersyukur. Pisang-pisang andalan hasil panen kebunnya setiap hari dapat terjual kembali ke luar pulau setelah bencana pada 22 Desember 2018 lalu.

Petugas dermaga tak luput menghitung jumlah tandan pisang warga yang melintas di depan pos jaga. Tiga orang kurir mengangkut satu per satu tandan pisang dari mobil dan gerobak penampung untuk dimuat di atas kapal selepas Subuh. Tak hanya muatan pisang, kapal juga mengangkut penumpang dan kendaraan motor. Tentunya, setelah muatan pisang beres.

Kapal siap berangkat sekira pukul 09.00 WIB. Satu per satu penumpang dan kendaraan masuk kapal. Mereka ingin menyeberang dari Pulau Sebesi ke Dermaga Canti, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan. Beragam urusan warga di Kalianda (Ibu Kota Kabupaten Lampung Selatan), ada yang ke pasar untuk memasok bahan pokok dan sayuran dan juga urusan lainnya. Petangnya, mereka balik lagi ke pulau.

“Di dermaga ini, kapal hanya sekali saja berangkat ke (Dermaga) Canti pagi. Sorenya balik lagi ke dermaga ini,” kata Yusuf (57 tahun), seorang tokoh masyarakat Dusun Regahan Lada kepada Republika di Pulau Sebesi, pekan lalu.

Yusuf mengatakan, masyarakat Pulau Sebesi rata-rata bekerja utamanya sebagai nelayan dan petani. Selebihnya, ada yang berdagang dan mengajar. Bila hasil tangkapan ikan nelayan berkurang, kata dia, warga beralih ke kebun-kebun mengurus tanamannya, baik pisang, kelapa, sayuran, ubi, kakao, dan lainnya.

Dermaga kapal menjadi tumpuan warga Pulau Sebesi. Selain bisa beraktivitas hilir dan mudik, pisang-pisang warga dapat terkirim ke Jakarta. Setelah bencana, pengiriman pisang terhenti. Selain tidak ada kapal motor, dermaga di Canti juga hancur. Kini, aktivitas pengiriman pisang ke Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) mulai normal.

Tak heran, warga di Jabodetabek yang hobi makan aneka gorengan pisang, bahan bakunya dari Pulau Sebesi. Pisang-pisang yang dikirim jenis pisang jantan, muli, kepok, tanduk, juga pisang ambon.

Kebun-kebun warga tersebut selalu ada pisangnya. Tanaman pisang, selain mudah ditanam, wilayah tanahnya juga cocok. Sebagian warga juga mengirim kelapa keluar pulau untuk memenuhi kebutuhan di Kota Bandar Lampung dan Jakarta.

photo
Pisang-pisang hasil panen petani Pulau Sebesi dijual ke Jabodetabek.

Secara geografis, Pulau Sebesi masih berada di Teluk Lampung perairan Selat Sunda. Luas pulau sekitar 2.620 hektare dan panjang pantai 19,55 km. Terdapat satu desa (Desa Tejang) dan empat dusun (Bangunan, Inpres, Regahan Lada, dan Segenom).
Jumlah warga sekira 700 kepala keluarga dan penghuninya berkisar 3.000 jiwa. Pulau Sebesi hanya bisa ditempuh melalui Dermaga Canti hingga ke Dermaga Tejang atau Dermaga Dusun Regahan Lada. Naik kapal motor ongkosnya Rp 20 ribu per orang atau per motor.

Menurut Rasimin (50 tahun), warga Dusun Regahan Lada, setiap hari warga menebang pohon pisangnya. Kalau musim hujan, satu tandan pisang berisi delapan sampai 12 sisir pisang. Kalau musim panas hanya lima sampai tujuh sisir. “Kalau pisang kepok ada yang satu tandan isinya 15-18 sisir pisang,” ujar dia saat ditemui Republika di Pulau Sebesi.

Warga menebang pisang ditampung pengumpul. Satu tandan pisang jantan dan mulai Rp 10 ribu, pisang kepok Rp 17 ribu, pisang tanduk Rp 15 ribu, pisang raja Rp 11 ribu, dan pisang ambon Rp 11 ribu. Berdasarkan perhitungannya, hasil panen pisang warga dengan harga tersebut setelah dipotong upah pikul Rp 750 per tandan, angkutan motor Rp 2.500, dan mobil Rp 5.000.

“Jadi, sampai di dermaga dihitung Rp 3.500 per tandan dan dibawa pihak ketiga menuju Jakarta dan sekitarnya seharga Rp 5.000 per tandan,” kata Rasimin yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan dan juga petani. Sekali angkut, satu unit kapal motor dari Dermaga Dusun Regahan Lada bisa mencapai 1.000 tandan pisang.

Penjualan pisang ke luar Pulau Sebesi sangat membantu warga setempat dikala hasil tangkapan ikan merosot. Pisang-pisang warga di kebun masih bisa dipanen, baik musim kemarau, apalagi musim hujan. Pisang-pisang dari Pulau Sebesi juga tak hanya dimanfaatkan untuk aneka gorengan, tapi juga sebagai bahan baku pembuatan keripik pisang di Kota Bandar Lampung.

Pusat keripik pisang di Jalan Pagaralam (Gang PU) Kota Bandar Lampung justru mengambil bahan baku pisang mentah dari Kabupaten Lampung Selatan, salah satunya dari Pulau Sebesi. Pasokan pisang dari Lampung Selatan tidak putus. Sedangkan, pasokan pisang-pisang dari daerah lain di Lampung bergantung musim, tidak menentu. Aneka keripik pisang beragam jenis dan rasa dijual di toko oleh-oleh khas Lampung. Satu bungkus keripik pisang berkisar Rp 12.500 hingga Rp 15 ribu dengan berat seperempat kilogram.

Menurut Rusman, salah seorang sopir mobil angkutan pisang yang mengetem di Dermaga Canti, pisang-pisang dari Pulau Sebesi juga dikirim ke Kota Bandar Lampung setiap hari. “Kalau yang ke Karang (Bandar Lampung) sudah langganan karena mereka ada pabrik keripik pisang,” katanya saat menanti datangnya pisang dari Pulau Sebesi siang hari. n ed: mas alamil huda

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA