Kamis 05 Sep 2019 20:18 WIB

ACT Ajak Publik Ringankan Korban Banjir Bandang di Sudan

Diperkirakan situasi hujan deras di Sudan sampai dengan akhir Oktober.

Situasi banjir bandang di Sudan.
Foto: act
Situasi banjir bandang di Sudan.

REPUBLIKA.CO.ID, KHOURTOUM – Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengajak masyarakat untuk menggalang kepedulian untuk menolong korban banjir Sudan. Hampir dua bulan Sudan dilanda hujan lebat dan banjir, kondisi ini mengakibatkan banyaknya daerah-daerah di Sudan terendam banjir hingga puluhan ribu rumah hancur diterjang banjir.

Kematian sudah mencapai diangka 62 jiwa yang tewas akibat banjir, 98 orang menderita luka-luka dan dirawat di RS, dan diperkirakan 245.700 orang telah terdampak akibat dampak banjir ini.

Baca Juga

“Banjir bandang yang menerjang semakin membuat rakyat Sudan kian menderita. Kami mengajak masyarakat secara luas untuk meringankan derita korban banjir di Sudan. Sebagai bangsa yang dermawan, tentunya kita tidak ingin absen dari kegiatan kemanusiaan,” ujar Lukman Azis, Direktur Komunikasi ACT (5/9).

Berdasarkan laporan mitra ACT di Sudan, hujan juga menyebabkan Sungai Nil meluap. Sejumlah lahan pertanian di wilayah Wadi Ramli, Khortoum pun terendam. Sebagian besar kerusakan berdampak pada lingkungan, seperti hancurnya infrastruktur drainase, terputusnya aliran listrik dan air bersih.

"Warga yang terdampak membutuhkan tempat tinggal darurat, makanan, layanan kesehatan, air bersih, dan keperluan sanitasi. Daerah terdampak banjir juga sangat membutuhkan pengendalian vektor untuk mengendalikan penyebaran penyakit dari serangga yang ada di kubangan banjir," kata juru bicara badan PBB untuk pengungsi (OCHA) Jens Laerke, dilansir dari Aljazirah.

Anas Omer, salah satu warga Khortoum, kini tidak lagi memiliki harta benda. Rumah dan kios tempatnya berdagang habis diterjang banjir bandang, air juga menghanyutkan harta bendanya. “Toko ini adalah satu-satunya sumber pemasukan yang saya punya untuk menghidupi keluarga. Rumah ini adalah satu-satunya tempat tinggal kami. Semuanya itu kini tidak ada. Tidak ada yang bisa saya lakukan, ini semua sudah takdir Tuhan,” ungkap Omer kepada Aljazirah.

Menurut catatan Komite Penanggulangan Bencana Sudan, setidaknya 700 rumah di Khortoum mengalami kerusakan. Loal Ali, Komite Manajemen Bencana mengatakan  “Sekitar 1.200 jiwa di kamp ini, namun disini tak ada listrik yang cukup, akses air bersih yang sulit dan kurangnya keamanan. Saat ini pemerintah Sudan sedang dalam mobilisasi mencari korban terdampak banjir, kondisi ini semakin memburuk karena selain masalah banjir, masalah poilitik pemerintahan Sudan juga belum membaik,” ungkapnya.

Diperkirakan situasi hujan deras ini sampai dengan akhir Oktober. Bisa dipastikan akan sangat berdampak sekali terhadap beberapa wilayah yang mudah terkena banjir. Saat ini mereka membutuhkan beberapa kebutuhan emergensi, baik dari tempat tinggal, makanan bantuan kesehatan, air bersih, dan sanitasi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement