Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Berdaya Ekonomi Tanpa Harus jadi TKI

Kamis 22 Aug 2019 05:00 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Agus Yulianto

Nuriyah, seorang warga Desa Sukaurip, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu dan mantan TKW kini membuka usaha budidaya jamur.

Nuriyah, seorang warga Desa Sukaurip, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu dan mantan TKW kini membuka usaha budidaya jamur.

Foto: Foto: Lilis Sri Handayani/Republika
Sejumlah mantan TKI perempuan Indramayu memutuskan tak akan pernah lagi pergi.

REPUBLIKA.CO.ID, Lebih baik hujan emas di negeri orang, daripada hujan batu di negeri sendiri. Peribahasa itu banyak diikuti warga Kabupaten Indramayu. Sempitnya lapangan pekerjaan di kampung halaman, telah membuat mereka memilih menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri.

Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) setempat, jumlah warga Kabupaten Indramayu yang menjadi TKI pada 2018 mencapai 22.398 orang. Sedangkan sejak Januari - Agustus 2019, tercatat ada 12.327 warga Indramayu yang memilih mengejar ‘hujan emas’ di negeri orang. Mayoritas di antara mereka adalah perempuan, yang bekerja di sektor informal.

Kerja keras para perempuan perkasa itu memang mampu menopang kehidupan ekonomi keluarga di kampung halaman. Namun di sisi lain, ada sesuatu yang hilang, yakni kasih sayang dan kebersamaan mereka di tengah keluarga tercinta.

Rasa itu akan semakin berat ditanggung oleh para TKI perempuan yang telah berumah tangga. Tak jarang, pernikahan mereka akhirnya berujung pada perceraian. Menengok pada data di Pengadilan agama (PA) Kabupaten Indramayu, kasus perceraian yang diajukan pasangan suami istri (pasutri) sepanjang 2018 tercatat ada 8.681 kasus. Salah satu pemicunya adalah kepergian sang istri menjadi TKI.

Untuk itu, sejumlah mantan TKI perempuan di Kabupaten Indramayu memutuskan tak akan pernah lagi pergi bekerja ke luar negeri. Mereka memilih membuka usaha sendiri di kampung halaman agar bisa senantiasa dekat dengan keluarga tercinta yang ada di rumah.

photo
Budidaya jamur. (Foto: Lilis Sri Handayani/Republika)

Salah satunya dilakukan oleh Nuriyah, seorang warga Desa Sukaurip, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu. Selama sembilan tahun sejak 1991, dia menjadi TKI di Arab Saudi. Saat itu, dia terpaksa kerja di negeri orang demi membiayai pendidikan tiga orang adiknya.

‘’Setelah tiga orang adik saya lulus SMA, barulah saya pulang,’’ kata Nuriyah, saat ditemui di rumahnya, Ahad (18/8).

Sejak saat itu, Nuriyah bertekad tak mau lagi menjadi TKI. Apalagi, dia kemudian menikah dan memiliki tiga orang anak. Dia tak ingin meninggalkan suami dan ketiga buah hatinya meski ada keinginan untuk membantu ekonomi rumah tangganya.

Nuriyah memilih membuka usaha menjahit pakaian di rumahnya. Namun, tak setiap hari ada warga yang membutuhkan jasanya. Dia kemudian tertarik mengikuti ajakan kerabatnya untuk mengikuti pelatihan budidaya jamur tiram di desanya. Pelatihan itu merupakan bagian dari program corporate social responsibility (CSR) yang diselenggarakan oleh Pertamina Refinery Unit (RU) VI Balongan.

Dalam pelatihan itu, Nuriyah diajarkan cara membudidayakan jamur tiram sekaligus pelatihan pengolahan jamur tiram. Tak hanya sebatas pelatihan, dia juga diberikan bantuan modal awal berupa 500 baglog jamur yang merupakan bahan dasar pembibitan jamur.

Hanya dalam waktu dua bulan sejak memulai budidaya jamur pada November 2018, Nuriyah telah memetik hasilnya. Dari 500 baglog, jamur yang dipanen rata-rata mencapai empat kilogram per hari. Jika dijual dalam bentuk mentah, jamur dihargai Rp 13 ribu – Rp 16 ribu per kilogram. Penjualan dilakukan melalui bakul secara langsung maupun lewat media sosial Facebook.

Selain itu, Nuriyah pun hampir setiap hari memasak jamur itu dengan cara dipepes. Pepesan jamur masakannya yang lezat, selalu laris manis dan memberinya keuntungan hingga Rp 100 ribu per hari. Sedangkan batang jamur sisa pepes yang tidak dipakai, diolahnya menjadi kerupuk, yang juga menghasilkan pundi rupiah untuknya.

Dari 500 baglog sebagai modal awal, hanya dalam waktu sekitar setengah tahun, dia sudah bisa membeli sendiri 1.200 baglog tambahan. Penghasilan pun terus masuk ke dalam kantongnya karena jamur dipanen setiap hari.

Nuriyah tak sendiri. Dia bersama teman-temannya bergabung dalam kelompok Sukaurip Jamur Tiram (Sujati). Para anggota kelompok itu memiliki usaha pengolahan jamur yang berbeda-beda. Di antaranya, keripik jamur dengan berbagai macam rasa, brownis dan kue jamur.

Pertamina RU VI Balongan pun memberikan bantuan untuk kelompok Sujati berupa steamer (mesin pengukus), pengemasan produk olahan jamur, pengurusan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan sertifikat halal.

‘’Hasil yang diperoleh dari menjual olahan jamur ini lebih besar dibandingkan menjual dalam bentuk jamur mentah,’’ tutur perempuan yang dipercaya menjadi koordinator kelompok Sujati itu.

Nuriyah bersyukur, budidaya jamur bisa membantu ekonomi keluarganya tanpa harus pergi bekerja ke luar negeri. Pemberdayaan ekonomi keluarga bisa terwujud tanpa harus menjadi TKI.

Tak hanya Nuriyah, keputusan bulat untuk tak lagi menjadi TKI juga diambil oleh Eli Sawana (42), seorang warga Desa/Kecamatan Balongan. Pada 1995 silam, dia pernah menjadi TKI di Arab Saudi. Namun, dia hanya bertahan bekerja selama 20 bulan.

Menurut Eli, bekerja di luar negeri penuh dengan tekanan batin karena harus berpisah dengan keluarganya. Selain itu, menjadi TKI juga harus siap dengan segala risiko buruk. ‘’Saya sudah kapok (jera). Tak mau lagi jadi TKI,’’ tegas Eli. 

Dengan kemampuan memasaknya, Eli kemudian membuka usaha kue basah dan kue kering di rumahnya. Produk dengan merk ‘’Zylque” itu dimulainya dari nol. Dia kemudian mendapat bantuan dan pendampingan dalam program CSR Pertamina RU VI Balongan. Omset usahanya kini rata-rata mencapai Rp 10 juta per bulan. Dia pun bisa mempekerjakan sejumlah orang untuk membantu usahanya.

Eli tak sendiri. Ada 11 perempuan mantan TKI lain di desanya yang juga memutuskan tak mau lagi jadi TKI. Mereka pun memilih usaha membuat berbagai produk makanan khas Indramayu. Di antaranya, terasi, rengginang, telor asin, unced kriuk, abon peda, keripik buah, rempeyek, kembang goyang dan keripik pisang.

Semula, mereka menjalankan usaha masing-masing. Tak hanya proses produksi yang masih manual, pengemasan pun dilakukan secara sederhana hingga membuat pemasaran menjadi terbatas.

Pertamina RU VI Balongan melalui program CSR-nya kemudian mengumpulkan Eli dan 11 mantan TKI lainnya itu ke dalam satu kelompok, yang diberi nama kelompok Cengkir. Eli dipercaya menjadi ketua kelompoknya. Para anggota kelompok Cengkir dibekali pengetahuan dasar tentang pengolahan makanan secara higienis dan pembuatan kemasan yang menarik dan aman. Selain itu, ada pula bantuan fisik berupa alat produksi makanan, seperti oven, penggorengan dan spinner.

Para anggota kelompok Cengkir juga diberikan bantuan pengajuan perizinan PIRT serta sertifikat halal. Dengan demikian, makanan yang mereka produksi dapat lebih terjamin hingga membuat penjualan meningkat karena pembeli menjadi lebih yakin dengan kualitas produk.

Melalui usaha itu, para anggota kelompok Cengkir juga bisa berdaya ekonomi tanpa harus menjadi TKI. Mereka telah membuktikan, hujan batu di negeri sendiri, lebih baik daripada hujan emas di negeri orang. 

Sementara itu, Unit Manager Communication Relation & CSR Pertamina RU VI Balongan, Eko Kristiawan, menjelaskan, usaha mikro kecil menengah (UMKM) memang menjadi salah satu sasaran pelaksanaan program CSR yang dijalankan Pertamina RU VI Balongan. Tujuannya, untuk meningkatkan kemandirian usaha warga agar bisa meningkatkan perekonomian keluarga mereka.

‘’Kita menitikberatkan pada peningkatan kualitas produk dan kapasitas melalui pelatihan hygiene sanitasi, perbaikan kemasan, perluasan pemasaran, pemberian alat produksi serta sertifikasi produk,’’ tandas Eko.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA