Rabu 14 Aug 2019 21:51 WIB

DMI Harap Sosialisasi Stunting Bisa Menjangkau 15 Ribu Jiwa

Diharapkan sosialisasi stunting memberi efek seperti bola salju.

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Gita Amanda
Pemerintah Indonesia optimistis dapat menurunkan angka stunting hingga di bawah 20 persen pada 2024.
Foto: Istimewa
Pemerintah Indonesia optimistis dapat menurunkan angka stunting hingga di bawah 20 persen pada 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wasekjen Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI) Jaorana Amiruddin berharap minimal 15 ribu orang bisa mendapatkan sosialiasasi dari lokakarya orientasi penurunan stunting dan angka kematian ibu dan bayi. Sosialisasi merupakan kerja sama DMI dengan Dit Promkes dan Pemberdayaan Masyarakat, Ditjen Kesmas, Kementerian Kesehatan.

"Kerja sama ini bertujuan untuk melakukan advokasi dan sosialisasi perlunya pencegahan stunting di komunitas masjid, selain pengurus DMI di Provinsi, kabupaten atau kota hingga desa, juga advokasi ke pemerintah daerah setempat termasuk perangkatnya," jelas dia kepada Republika.co.id, Rabu (14/8).

Baca Juga

Perwakilan dari 25 masjid di satu kabupaten diundang untuk menghadiri lokakakarya di DMI Provinsi. Diharapkan perwakilan dari tiga kabupaten/kota ini dapat menyebarluaskannya.

Jaorana menjelaskan setiap kader dapat memberikan penyuluhan kepada 20 orang di sekitar lingkungan masjidnya. Sehingga ada efek bola salju yang menyebar dengan 150 kader, ada tiga ribu jamaah yang tersosialisasi.

"Jika tiga ribu jamaah ini dapat menjelaskan kepada lima orang saja maka sudah ada 15 ribu orang yang teredukasi tentang masalah stunting, buka hanya di pedesaan bahkan di perkotaan saja banyak orang yang tidak paham dan mengerti apa itu stunting dan cara penanganannya,"jelas dia.

Indonesia saat ini masih berada di posisi 30,8 persen anak yang mengalami stunting. Padahal menurut WHO, rekomendasi batas atas angka stunting tidak boleh melebihi 20 persen.

Kabupaten yang terdeteksi tinggi angka stunting diantaranya Kabupaten Buton Selatan, Kolaka, dan Konawe Selatan di Sulawesi Tenggara. Sedangkan di Jawa Timur angka stunting tertinggi terdapat di Lamongan, Ponorogo dan Bangkalan.

"Masjid secara substansial tidak lagi hanya sekadar menjadi tempat ibadah, tetapi juga muamalah kemaslahatan sekitar masjid. Misalnya saja masalah kesehatan dengan ke masjid, jamaah paham mengenai masalah stunting," jelas dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement