Jumat 09 Aug 2019 11:11 WIB

Penyalinan Alquran di Indonesia dalam Catatan Sejarah

Ada dugaan kuat Alquran sudah disalin sebelum abad ke-17.

Rep: mgrol123/ Red: Agung Sasongko
Petugas Museum Bayt Alquran menunjukan mushaf Alquran berbahan daluang ( kayu pohon daluang) di Museum Bayt  Alquran, Jakarta,Rabu (5/12).
Foto: Republika/Iman Firmansyah
Petugas Museum Bayt Alquran menunjukan mushaf Alquran berbahan daluang ( kayu pohon daluang) di Museum Bayt Alquran, Jakarta,Rabu (5/12).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu bukti kehadiran Islam di Indonesia adalah hadirnya mushaf Alquran. Mushaf Alquran ini akan memberikan gambaran kapan waktu dakwah Islam tiba di Nusantara.

Dari catatan sejarah, Samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara.  Walaupun demikian, peneliti dari Bayt Al-Quran TMII belum menemukan Al-Quran abad 13 di daerah Aceh hingga saat ini.

Sementara, Penyalinan Alquran berlangsung  berlangsung di berbagai kota atau wilayah penting masyarakat Islam di masa lalu seperti di Aceh, Riau, Padang, Palembang, Banten, Cirebon, Yogyakarta, Surakarta, Madura, Lombok, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Makassar, Ternate dan beberapa lokasi lainnya di Nusantara.

Abad ke 17

Meskipun terdapat dugaan kuat bahwa Alquran sudah disalin sebelum abad ke 17, beberapa Mushaf kuno yang ada saat ini berasal dari awal abad ke 17. Sayangnya, Mushaf-Mushaf sebelum abad ke 17 diperkirakan sudah rusak dimakan oleh umur dan ditambah lagi dengan akibat dari iklim tropis dan tingkat kelembapan udara yang tinggi di Nusantara membuat mushaf-mushaf tersebut menjadi cepat lapuk dan rusak.

Mengenai soal koleksi mushaf abad ke 17, barang tersebut terdapat di perpustakaan Rotterdam, Perpustakaan Negara Malaysia dan Perpustakaan Universitas Leiden yang dikoleksi oleh pihak asing.

Beberapa mushaf Alquran di abad ke 17 memiliki beberapa ciri di pembuatannya dan tentunya tidak mengubah isi kitab Suci Al-Quran itu sendiri. Salah contohnya adalah terdapat sebuah kolofon Jawa di bagian belakang mushaf tersebut.

Selain itu, mushaf tersebut kertasnya berupa diluwang. Pastinya, salah satu mushaf tersebut berasal dari daerah Pulau Jawa. Untuk tambahan informasi, ada juga Mushaf Alquran yang selesai disalin pada 4 Rajab 1088 atau 2 September.

Abad ke 18

Untuk mushaf Al-Quran abad ke 18, pada umumnya berasal dari berasal dari kesultanan pada masa itu seperti kesultanan Banten, Kacirebonan, Surakarta, Sumbawa, Bima, Ternate, Tidore, dan Kedah. Hampir semua Mushaf Alquran abad ke 18 berasal dari istana. 

Selain itu, salah satu naskah mushaf Alquran yang berasal dari abad ke 18 selesai di salin pada 26 Juli 1753, dilakukan oleh Kesultanan Kedah oleh Ali bin Abdullah bin Abdurahman, penyalin Bugis asal Wajo. Lalu beberapa tahun kemudian ada juga Mushaf Al-Quran yang ditulis pada 14 Maret 1772 di Kesultanan Ternate  oleh Haji Abdul Alim bin Abdul Hamid.

Ada juga Mushaf Al-Quran yang disalin pada 2 Oktober 1785 di Kesultanan Sumbawa oleh Muhammad bin Abdullah al-Jawi al-Bugisi. Meskipun Mushaf-Mushaf Al-Quran ini berasal dari tempat berbeda, Mushaf-Mushaf ini berakar dari tradisi penyalinan mushaf yang sama yakni dari Bugis.

Abad ke 19

Untuk Penyalinan Mushaf pada ke 19 dilakukan secara merata di Nusantara dan dilakukan di beberapa daerah seperti di Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sumbawa, Sulawesi, hingga Maluku. Pada umumnya, penyalinan mushaf Alquran pada abad ke 19 dilakukan di pusat pusat pendidikan Islam seperti Surau, Dayah, Pesantren.

Di separuh kedua abad ke 19, percetakan Mushaf Alquran mulai memakai alat cetak batu atau litografi. Bahkan, memasuki abad ke 20, tradisi penyalinan Alquran secara manual mulai ditinggalkan dan beralih ke mesin cetak modern yang didatangkan dari Eropa.

Sumber: Museum Bayt Al-Quran

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement