Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

Sabtu, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 Desember 2019

H Tony Budi Hartono: Wakaf Kunci Membangun Umat

Senin 15 Jul 2019 21:41 WIB

Red: Agung Sasongko

Pewakaf dan pendiri Pondok Pesantren Trubus Iman di Tanah Grogot Kabupaten Tanah Paser Kalimantan Timur H Tony Budi HartonoH Tony

Pewakaf dan pendiri Pondok Pesantren Trubus Iman di Tanah Grogot Kabupaten Tanah Paser Kalimantan Timur H Tony Budi HartonoH Tony

Foto: Dokumen pribadi
Pesantren Trubus Iman dikelola dari hasil wakaf perkebunan kelapa sawit.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mendakwahkan Islam membutuhkan sinergi dan potensi. Tak bisa mengandalkan kekuatan sendiri. Rasulullah SAW, misalkan, menyebarluaskan tauhid dibantu para sahabat yang masingmasing memiliki keunggulan.

Abu Bakar, misalnya, mewakafkan seluruh hartanya untuk kepentingan dakwah Islam. Umar dan Usman mewakafkan sebagian hartanya untuk dakwah. Ali memiliki keunggulan dalam ilmu pengetahuan dan kecerdasannya.

H Tony Budi Hartono menyimpulkan, harta merupakan salah satu penyokong kesuksesan dakwah selain sumber daya manusia. Seperti para sahabat, dia mewakafkan ratusan hektare tanahnya untuk pengembangan Pesantren Trubus Iman di Tanah Grogot, Kabupaten Tanah Paser, Kalimantan Timur.

Lembaga pendidikan Islam tersebut kini dikembangkan oleh tenaga yang berilmu agama jebolan dalam dan luar negeri yang mendidik 1.300 santri. Wartawan Republika, Erdy Nasrul, berkesempatan mewawancarai H Tony di Kompleks Pesantren Trubus Iman pekan lalu. Berikut petikannya.

Bagaimana cerita Anda menjadi pewakaf?

photo
H Tony membacakan ikrar wakaf di hadapan Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor, Guru Pondok Modern Darussalam Gontor, dan ulama setempat.

Inspirasi wakaf bermula saat menyekolahkan anak di Gontor mendekati milenium ketiga. Ketika datang ke Gontor, saya berdialog dengan para wali santri tentang Gontor yang mendapatkan wakaf 300 hektare tanah sawah.

Keluarga pewakaf kalau datang ke Gontor putri menangis bahagia karena tanah yang diwakafkan dimanfaatkan un tuk kelangsungan pembelajaran para san tri. Begitu juga dengan Gontor VI di Ma ge lang. Lahan di sana juga merupakan wakaf.

Selama 12 tahun saya memperhatikan dinamika wakaf di Gontor sambil menyekolahkan dua anak saya, Reza Jehan Lesmana dan Anisa Indah Lestari. Dari situlah saya terinspirasi untuk mewakafkan tanah. Tapi, ketika itu hanya wakaf, belum ada keinginan membangun pesantren.

Situasi di Kalimantan sangat mungkin dimanfaatkan untuk gerakan wakaf. Ada saja orang-orang yang memiliki lahan berlebih sehingga sebagiannya bisa diwakafkan kepada pesantren.

Setelah itu mencoba mewakafkan aset?

photo
H Tony Budi Hartono

Tahun 1999 saya mewakafkan 10 hektare lahan untuk Pesantren Babussalam di sini. Tak hanya menjadi wakif, saya ternyata dimasukkan sebagai pendiri yayasan pesantren tersebut. Keterlibatan saya di sana adalah memasukkan nilai universal agar lembaga pendidikan tersebut lebih terbuka dan dapat merangkul berbagai pihak.

Para pendiri di dalamnya banyak berafiliasi pada ormas tertentu. Saya kemudian berpikiran bagaimana kalau nama pesantren ini tidak mencantumkan nama ormas tertentu. Sehingga, lebih terkesan terbuka dan diterima berbagai kalangan. Sejak itu namanya menjadi Babussalam.

Setelah Babussalam, Pak Haji mendirikan Pesantren Trubus Iman?

photo
H Tony Budi Hartono menyambut tamu masyarakat setempat.

Pada 2010, saya mencalonkan diri menjadi kepala daerah di Kabupaten Tanah Paser ini. Namun, gagal. Setelah itu saya berpikir, ada potensi lain yang menjadi passion, yaitu lahan dan pesantren. Kita kelola sendiri sehingga bisa bermanfaat untuk umat.

Santri berdatangan ke sini untuk belajar dari berbagai daerah di Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, dan sekitarnya. Sekarang sudah ada ada 1.300 santri dari mulai PAUD, TK, sampai madrasah aliyah.

Seperti apa sistem pembelajaran di Pesantren Trubus Iman?

photo
H Tony duduk bersama Pimpinan Pondok Trubus Iman Reza Jehan Lesmana (tak berpeci) dan Daniar Siahaan.

Ini berkaitan dengan kunjungan dua petinggi Pondok Modern Gontor, Prof Dr Amal Fathullah Zarkasyi dan Dr Dih yatun Masqan, pada saat pondok ini berusia tiga tahun. Mereka menginap di gedung al-Kahfi. Sehari-hari mereka mengelilingi area pondok yang sudah tertata. Bangunan kelas, asrama, masjid, lapangan, dan berbagai fasilitas lainnya berada di tempat yang tepat sehingga enak dilihat.

Dua orang ini terkagum. Setelah menikahkan anak saya, Anisa Indah Lestari dengan Ustaz Daniar Siahaan, mereka bertandang ke rumah. Muncullah pertanyaan, bagaimana ceritanya bisa membangun pondok dengan perkembangan yang menggembirakan.

Saya menceritakan, ini adalah ijtihad saya 'memotong kompas' dari apa yang ada di Gontor. Dari sekian panjang per ja lan an Gontor, saya menyimpulkan wa kaf menjadi kunci membangun umat. Karena itulah, saya mewakafkan tanah untuk Pesantren Trubus Iman. Kelak itu akan membawa keberkahan untuk masyarakat luas.

Mengapa harus dengan wakaf?

photo
H Tony dan pimpinan Trubus Iman berpose bersama tamu.

Biasanya pesantren dibangun dari hasil sumbangan, membuat proposal untuk mendapatkan bantuan. Saya berijtihad tak harus seperti itu. Sangat mungkin pesantren berdiri dari hasil wakaf sendiri.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA