Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Turki Mulai Observasi Monumen Batu Kuno Warisan Bangsa Het

Kamis 04 Jul 2019 13:19 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Nashih Nashrullah

Desa Karalar, Kirsehir, Turki.

Desa Karalar, Kirsehir, Turki.

Foto: Daily Sabah
Monumen batu kuno ditemukan di Provinsi Kirsehir, Turki.

REPUBLIKA.CO.ID, KIRSEHIR— Pemerintah Turki telah memulai penggalian monumen batu kuno berukir hieroglif di Provinsi Kirsehir, Turki. Monumen itu merupakan peninggalan Kekaisaran Het (Hettite, bangsa Anatolia kuno yang menuturkan bahasa dari cabang Anatolia dalam rumpun bahasa Indo-Eropa) dan merupakan salah satu dari sedikit jenis monumen batu kuno berukir hieroglif di Turki. 

Monumen batu itu dikenal penduduk setempat sebagai Malkaya. Letaknya ada di Desa Karalar, Kirsehir. Diperkirakan monumen baru itu berdasar dari 1.300 SM. 

Baca Juga

Penggalian dilakukan sebagai upaya penyelamatan monumen tersebut yang sebagian mengalami kerusakan akibat ulah para pemburu harta karun yang menggunakan dinamit.  

Penasihat Ilmiah tim Penggalian dari Departemen Arkeologi Universitas Kirsehir Ahi Evran, Elif Basturk mengatakan bahwa batu itu awalnya ditemukan oleh ilmuwan Jerman yakni Helmuth Theodor Bossert pada 1950an. Dan menjadi lebih dikenal luas di dunia sains setelah berbagai karya dan literatur diterbitkan pada tahun-tahun berikutnya. 

Menurut Basturk, hampir semua sisi batu terdapat ukiran hieroglif. Selain itu terdapat juga prasasti yang terpajang di salah satu batu. “Ada bagian yang patah dan membusuk, sebab tertutup tanaman berduri, tak semua tulisan hieroglif terlihat,” kata Basturk seperti dilansir Daily Sabah pada Kamis (4/7).   

Basturk mengungkapkan dalam batu tersebut terdapat catatan tentang seorang pangeran dan seorang putri meski demikian tidak ada kejelasan. Basturk juga mengungkapkan ada sejumlah sumber yang menyebut bahwa monumen itu menggambarkan perburuan yang dilakukan Dinasti Het. Sementara beberapa pandangan lainnya menilai monumen itu mencerminkan ritual keagamaan.   

“Ini bisa dikaitkan dengan ritual keagamaan bila kita mempertimbangkan sisa-sisa arsitektur disekitarnya. Bila ada peninggalan arsitektur lain yang berhubungan dengannya atau yang berada  di sekitarnya maka kita dapat membicarakannya sebagai struktur ritual keagamaan,” katanya. Sementara itu rencananya penggalian monumen kuno tersebut akan rampung dalam 20 hari. Andrian Saputra

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA