Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

 

Beda Pendapat tentang 17 Ramadhan Waktu Turunnya Alquran

Senin 20 May 2019 13:26 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Hasanul Rizqa

Ciri malam lailatul qadar

Ciri malam lailatul qadar

Foto: republika
Turunnya Alquran atau Nuzulul Qur'an disebut terjadi pada 17 Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bulan Ramadhan dijuluki sebagai 'Bulannya Alquran', Syahrul Qur'an. Sebab, di bulan inilah terjadi peristiwa agung, turunnya Alquran ke bumi.

Baca Juga

Menurut Ketua Lembaga Dakwah Khusus (LDK) PP Muhammadiyah Muhammad Ziyad, turunnya Alquran (nuzulul Qur'an) dipandang para ulama sebagai anugerah dan nikmat yang luar biasa kepada manusia. Alquran adalah pedoman untuk selama di dunia dan akhirat. Alquran disebut juga al-Furqan, pemisah antara kebenaran dan kemungkaran.

Bagaimanapun, tanggal pasti turunnya Alquran itu pada bulan Ramadhan masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. Ziyad menjelaskan, ada alim ulama yang menyebut nuzulul Qur'an terjadi pada 17 Ramadhan.

Ada pula yang berpendapat, nuzulul Qur'an terjadi pada malam Lailatul Qadar yang jatuhnya belum tentu tepat 17 Ramadhan. Sebutan tersebut merujuk pada Alquran surah al-Qadr ayat pertama.

Dua pendapat yang agak berbeda ini punya keselarasan, yakni Kitabullah tersebut diturunkan oleh Allah SWT ke langit dunia pada malam bulan Ramadhan.

"Tetapi jumhurul ulama menyatakan bahwa Alquran turun pada malam 17 Ramadhan. Lihat pendapat Syekh Manna' al-Khotton. Tetapi, keduanya (pendapat) dapat dipahami bahwa Alquran itu turun di malam hari pada bulan Ramadhan," kata Ziyad melalui pesan elektronik kepada Republika.co.id, Senin (20/5).

Tanggal 17 Ramadhan tahun ini jatuh pada Rabu (22/5) mendatang. Karena itu, Ziyad mengingatkan, umat Islam agar semakin meningkatkan amal ibadah, terutama memasuki pertengahan bulan suci ini. Sebab, inilah kesempatan emas untuk berinvestasi amal-amal terbaik sebagai bekal di akhirat kelak.

Selain itu, ia juga mengingatkan umat untuk tetap menguatkan semangat berbagi terhadap sesama. Rasulullah SAW menjadi pribadi yang amat ringan dalam berbagi, terutama saat Ramadhan. Kedermawanan beliau shalallahu 'alaihi wasallam seperti angin yang berhembus sejuk.

Ramadhan juga adalan bulan pengendalian diri. Mengendalikan emosi, syahwat, dan kesabaran.

Dalam konteks nasional saat ini, Ziyad mengingatkan agar umat Islam selalu dapat mengendalikan syahwat politik yang berlebihan. Sebab, ada kemungkinan manusia menghalalkan segala cara ketika tidak mampu mengendalikan syahwatnya.

"Ramadhan mengajarkan bahwa hidup harus menempuh cara-cara yang dihalalkan dan mengajarkan hidup harmoni penuh kedamaian," tambahnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES