Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Jumat, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Tujuh Periode Persebaran Hadis Nabi SAW

Kamis 04 Apr 2019 22:29 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Rasulullah

Rasulullah

Foto: wikipedia
Dalam setiap periode, memiliki kekhasan terkait persebaran hadis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mayoritas ahli hadis mendefinisikan hadis sebagai segala ucapan, perbuatan, dan keadaan Nabi Muhammad SAW atau segala berita dari Rasulullah SAW yang berupa ucapan, perbuatan, takrir (peneguhan kebenaran dengan alasan) maupun deskripsi sifat-sifat Nabi SAW.

Baca Juga

Sementara itu, para ahli usul fikih menyebutkan, hadis merupakan segala perkataan, perbuatan, dan takrir Rasulullah yang bersangkut paut dengan hukum. Ensiklopedi Islam menukilkan klasifikasi, berdasarkan sumbernya, hadis terdiri atas dua macam, yaitu hadis qudsi dan hadis nabawi.

Hadis qudsi merupakan hadis yang berisi firman Allah SWT yang disampaikan kepada Rasulullah. Kemudian, beliau menerangkan kepada umatnya dengan susunan katanya sendiri dan menyandarkannya kepada Allah. Bisa juga berarti bahwa hadis ini maknanya dari Allah, sedangkan lafalnya berasal dari Rasulullah. Sementara itu, hadis nabawi adalah hadis yang lafal dan maknanya berasal dari Nabi Muhammad sendiri.

 

Tahap-tahap Persebaran Hadis

Hadis yang merupakan sumber kedua ajaran Islam setelah Alquran, melalui proses perkembangan. Ada beberapa tahap yang berkaiatan dengan diseminasi hadis. Periode pertama adalah masa wahyu dan pembentukan hukum serta dasar-dasarnya. Pada masa ini, Muhammad hidup di tengah masyarakat.

Ketika itu Muhammad memerintahkan sahabatnya menuliskan setiap wahyu yang turun. Secara bersamaan, ia melarang menulis hadis. Tujuannya agar semua potensi diarahkan pada Alquran. Namun, keinginan para sahabat mencatat hadis tak bisa dibendung. Hal ini disebutkan oleh Anas bin Malik: "Ketika kami berada di sisi Nabi, kami simak hadisnya dan ketika  bubar, kami mendiskusikan hadis tersebut hingga kami menghafalnya."

Kala itu, hadis diterima para sahabat ada yang secara langsung, yaitu melalui majelis pengajian serta karena respons terhadap perilaku umat yang membutuhkan penjelasan.

Ada juga hadis yang diterima secara tak langsung. Biasanya hal itu diakibatkan oleh beberapa hal seperti kesibukan yang dialami sahabat, tempat tinggal sahabat yang jauh, atau perasaan malu untuk bertanya langsung kepada Nabi Muhammad. Contoh dari hal ini adalah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Aisyah.

Hadis itu berisi tentang jawaban pertanyaan seorang perempuan mengenai bagaimana membersihkan diri dari haid.

Lalu, periode kedua. Ini dikenal pula sebagai periode membatasi hadis dan menyedikitkan riwayat, yaitu pada masa empat khalifah, Abu Bakar as-Sidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Permasalahan yang sangat menarik perhatian di masa itu adalah soal ketatanegaraan dan kepemimpinan umat. Dua soal selain penyebaran Islam. Situasi politik dan perpecahan berimbas pada penyebaran hadis. Maka itu, Abu Bakar dan Umar mengingatkan kepada umat Islam untuk mencermati hadis yang mereka terima.

Adapun periode ketiga disebut juga penyebaran riwayat ke kota-kota yang berlangsung pada era sahabat kecil dan tabiin besar. Ini terkait dengan penaklukan tentara Islam terhadap Suriah, Irak, Mesir, Persia, Samarkand, serta Spanyol yang menyebabkan mereka menyebar ke wilayah baru itu untuk mengajarkan Islam.

Pada perkembangan selanjutnya, seorang sahabat yang mendengar sebuah riwayat yang belum pernah didengarnya, akan berkunjung ke wilayah seorang sahabat yang disebut meriwayatkan hadis itu. Dalam riwayat Bukhari, Ahmad, dan at-Tabari serta al-Baihaki disebutkan, Jabir pernah pergi ke Suriah dengan maksud seperti di atas.

Periode keempat dinamakan periode penulisan dan kodifikasi secara resmi yang berlangsung dari masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720 Masehi). Semuanya bermula dari keprihatinan Khalifah karena semakin berkurangnya penghafal hadis karena meninggal dunia.

Dia mengirimkan surat kepada gubernur-gubernurnya untuk menuliskan hadis yang berasal dari penghafal dan ulama di tempatnya masing-masing. Kebijakan ini tercatat sebagai kodifikasi pertama hadis secara resmi. Dan, Abu Bakar Muhammad bin Syihab az-Zuhri merupakan ulama besar pertama yang membukukan hadis.

Periode kelima adalah pemurnian, penyehatan, dan penyempurnaan. Hal ini berhubungan dengan upaya membedakan antara hadis dan fatwa para sahabat serta adanya fenomena pemalsuan hadis.

Periode keenam dinamakan pemeliharaan, penertiban, penambahan, dan penghimpunan. Para ulama hadis pada masa ini, berlomba menghafal sebanyak-banyaknya hadis yang sudah dikodifikasi. Hingga kemudian muncul bermacam-macam gelar keahlian dalam ilmu hadis, seperti al-Hakim dan al-Hafiz. Mereka juga fokus pada perbaikan susunan kitab hadis dan mengumpulkan hadis pada kitab sebelumnya ke dalam kitab yang lebih besar.

Periode ketujuh, aktivitasnya melanjutkan periode sebelumnya. Penghancuran Baghdad, Irak, sebagai pusat pemerintahan Abbasiyah oleh Hulagu Khan menggeser kegiatan di bidang hadis ke Mesir dan India. Cara penyampaian hadis pun berbeda. Kadang-kadang berupa pemberian izin oleh seorang guru kepada murid untuk meriwayatkan hadis dari guru itu yang dinamakan dengan ijazah.

sumber : Pusat Data Republika/Ferry Kisihandi
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA