Selasa 05 Mar 2019 11:53 WIB

Mengenal Sesepuh Masjid Salman ITB, Imaduddin Abdulrahim

Bung Hatta menjadi inspirasi Imaduddin Abdulrahim alias Bang Imad

Muhammad Imaduddin Abdulrahim
Foto: blogspot.com
Muhammad Imaduddin Abdulrahim

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muhammad ‘Imaduddin ‘Abdulrahim atau yang akrab disapa Bang ‘Imad lahir pada 21 April 1931 di Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Kalangan Institut Teknologi Bandung (ITB) menjulukinya sesepuh Departemen Teknik Elektro. Namanya dikenang tidak hanya sebagai akademisi, tetapi juga mubaligh nasional.

Bang 'Imad merupakan seorang pendiri Masjid Salman ITB. Dia keturunan alim ulama. Ayahandanya, Haji ‘Abdulrahim Abdullah, merupakan alumnus Universitas al-Azhar (Mesir). Sukunya, Minangkabau. Sang ayah juga aktif di dunia politik sebagai anggota Konstituante dari Partai Masyumi. Ibundanya, Syaifatul Akmal, adalah keturunan bangsawan Kesultanan Langkat.

Baca Juga

Cerita tentang sang ayah yang pernah menimba ilmu di Mesir tidak lepas dari peran Kesultanan Langkat. Bapaknya (kakek dari Bang 'Imad) adalah pengurus masjid kerajaan tersebut sejak 1870-an. Anaknya ('Abdulrahim) lantas dititipkan kepada mufti Kesultanan Langkat, Haji Majjadah, untuk menjadi santri. Sesudah menikah, pasangan 'Abdulrahim dan Syaifatul Akmal berangkat ke Tanah Suci, lalu lanjut ke Kairo.

Semasa di Mesir, pasangan tersebut dikaruniai anak pertama, Abdulrahman, tetapi buah hati mereka itu wafat tidak lama kemudian. Sesudahnya, mereka memeroleh keturunan lagi, yakni dua orang putri. Sekembalinya di Tanah Air, lahirlah putra mereka, Muhammad ‘Imaduddin. Lima tahun kemudian, lahir ‘anaknya yang lain, Abdullah.

 

Masa Kecilnya

Rifki Rosyad dalam A Quest for True Islam (1995), memaparkan masa kecil ‘Imaduddin Abdulrahim. Orang tuanya mengajarkan kepadanya dasar-dasar agama Islam. Selain itu, sang ayah juga kerap menuturkan kisah-kisah heroik nan inspiratif tentang perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat.

Di rumahnya, ‘Imaduddin dan para saudara ditempa secara disiplin. Tidak ada waktu terbuang sia-sia. Misalnya, lima shalat wajib harus di awal waktu. Harus rutin mengaji.

Di luar rumah, ‘Imaduddin menempuh pendidikan dasar di sekolah Belanda, Hollandsch Inlandsche School (HIS). Masa kecilnya tidak lepas dari suasana perjuangan bangsa Indonesia mengusir penjajah.

Sang ayah, Haji ‘Abdulrahim, bahkan sempat memboyong keluarganya ke Aceh. Sebab, dianggapnya sultan Langkat saat itu berpihak pada Belanda. Pasca-Proklamasi RI, ‘Imaduddin muda tergabung dalam Barisan Hizbullah. Saat itu, tahun 1946. Walau baru berusia 15 tahun, Bang 'Imad sudah mampu melakukan taktik gerilya sampai-sampai meraih pangkat sersan.

 

Bung Hatta Mengubah Jalan Hidupnya

Buku Bang ‘Imad: Pemikiran dan Gerakan Dakwahnya (2002) mengungkap fakta menarik. Waktu itu, ‘Imaduddin duduk di kelas tiga SMA. Artinya, beberapa bulan lagi dia akan lulus, untuk kemudian menjadi mahasiswa.

Saat itu, kota tempat tinggalnya menerima tamu istimewa: Wakil Presiden RI Mohammad Hatta. Bung Hatta mengunjungi Medan dalam rangka peresmian PLTA Asahan. Berita kedatangannya segera menghiasi halaman utama di koran-koran lokal.

‘Imaduddin muda amat antusias menghadiri acara tersebut. Dia berdiri di antara lautan manusia yang siap menyimak pidato Bung Hatta.

Bung Hatta bukanlah tokoh nasional pertama yang dijumpainya. Sebelumnya, Bang 'Imad juga pernah berjumpa dengan Sutan Sjahrir. Perdana menteri Indonesia itu suatu kali menyambangi Medan.

Bila perjumpaannya Sjahrir membuatnya menjadi pendukung sosialisme, maka pidato Mohammad Hatta kali ini membuka kesadarannya.

Bung Hatta berpidato tentang maslahat Bendungan Asahan. Kompleks pembangkit energi ini mampu menghasilkan listrik untuk menerangi seluruh Pulau Sumatra. Ditegaskannya bahwa kemajuan bangsa mustahil terwujud bila tidak ada pembangkit energi listrik. Apalagi, kebutuhan akan listrik semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Kata-kata sang proklamator RI itu terpatri betul di benak ‘Imaduddin. Pada hari-hari berikutnya, sebuah media lokal memuat iklan dari Departemen Pendidikan RI. Isinya: cabang Universitas Indonesia yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat (kelak ITB sejak 1959) menerima pendaftaran mahasiswa baru jurusan listrik.

Iklan itu seperti menantang pembacanya. Dikatakan di sana: “Jika nilai matematika Anda sekadar tujuh, maka jangan memilih jurusan ini.”

‘Imaduddin kontan bersemangat. Sebab, dia memang unggul di bidang matematika dan ilmu-ilmu eksakta--di samping bahasa Indonesia, khususnya pada bagian debat.

Begitu ujian akhir selesai, Bang 'Imad lulus dengan nilai nyaris sempurna. Singkat cerita, setelah lulus dari SMA, dimulailah babak baru dalam kehidupannya.

Pemuda yang awalnya bercita-cita menjadi dokter, kini menempuh studi sebagai calon insinyur listrik.

Baca juga: Sesepuh Masjid Salman ITB, Bang Imad, dan HMI

sumber : Islam Digest Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement