Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Peran Penting Amil di Era Digitalisasi Zakat

Selasa 11 Jun 2019 16:46 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tedjomukti/ Red: Agung Sasongko

Zakat

Zakat

Seorang amil harus memiliki integritas yang kuat dan berakhlak karimah.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Mantan ketua Umum Baznas KH Didin Hafidhuddin mengatakan, dalam berzakat, amil zakat memiliki peranan yang sangat penting.

Baca Juga

"Tiga unsur dalam zakat itu saling berkaitan, muzaki (orang yang berzakat), mustahik (orang yang meneirma zakat), dan amil zakat (orang yang menggerakkan roda perzakatan)," ujar dia kepada Republika.co.id, belum lama ini.

Menurut anggota Dewan Syariah Nasional MUI ini amil zakat sebagai orang yang menyalurkan zakat dituntut untuk memiliki integritas yang kuat dan berakhlak karimah. Mereka juga diizinkan untuk menggunakan metode apa pun sesuai syariah, termasuk dengan metode digital.

"Silakan saja menggunakan media digital untuk dimanfaatkan, tetap unsur amanah dan transparan sangat penting, karena media digital hanya untuk umat Islam mempermudah dalam membayar zakat," tutur dia.

Apalagi, setiap tahun, pengumpulan dana zakat terus meningkat melalui lembaga amil zakat. Ini membuktikan adanya kesadaran luar biasa dari umat Islam. Membayar melalui digital tidak lagi mengharuskan muzaki datang atau transfer. Namun, harus tetap memilih lembaga zakat yang amanah dan transparan.

Selain itu, amil zakat juga harus memiliki komitmen untuk memanfaatkan dana zakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan mustahik. Ini karena ukuran keberhasilan penyaluran zakat adalah sejauh mana mustahik dapat menjadi muzaki.

Tentu diperlukan usaha untuk memotong mata rantai kemiskinan. Bagi yang miskin karena tidak memiliki pendidikan, maka dana zakat digunakan untuk membangun sarana dan prasarana pendidikan.

"Bagi mustahik yang miskin karena tidak punya pekerja, maka amil zakat digunakan untuk membuka lapangan pekerjaan yang dapat diakses dengan mudah oleh para mustahik," ujar dia.

Demikian juga bagi mustahik yang miskin karena kesehatan yang buruk, maka perlu dibangun sarana rumah sakit atau rumah sehat yang terjangkau. Saat ini sudah saatnya tujuan amil zakat menyejahterakan mustahik.

Karena kesadaran berzakat bertambah setelah merasakan manfaat zakat, maka peningkatkan kesejahteraan mustahik kini sangat penting. Dia berharap, dengan fokus pada tujuan tersebut, tidak ada amil zakat yang melakukan pelanggaran.

Apalagi, amil zakat seharusnya telah memiliki pemahaman yang baik mengenai penggunaan dana zakat yang harus habis dalam satu tahun berjalan, berbeda dengan infak dan sedekah. Guru Besar IPB ini pun menegaskan, lembaga zakat tidak perlu bangga jika memiliki saldo yang banyak.

Dalam membayar zakat melalui digital memang terdapat kelebihan dan kekurangan. Biasanya, ketika membayar zakat kepada amil secara langsung, ada terasa getaran doa usai ijab kabul. Muzaki biasanya mendengar langsung untaian doa yang diucapkan oleh amil zakat. Selain itu, akan terjalin silaturahim antar muzaki dan amil zakat.

Namun, bagi mereka yang memang memiliki kesibukan untuk bertemu dengan amil zakat secara langsung, media digital sangat membantu mereka. Didin berharap meski maraknya media digital menjadi sarana membayar zakat, amil zakat tidak meninggalkan layanan zakat secara langsung sesuai ajaran Alquran, at-Taubah ayat 103 bahwa doa dari amil zakat akan menentramkan jiwa muzaki.

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui."

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA