Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Maksimalkan Wakaf, Sinergi Foundation Luncurkan E-Commerce

Jumat 15 Mar 2019 21:17 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi Wakaf

Ilustrasi Wakaf

Foto: Foto : MgRol112
E-Commerce upaya untuk mengeluarkan platform digital.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sinergi Foundation terus berinovasi dalam mengelola wakaf. Lembaga pemberdayaan berbasis wakaf produktif tersebut berencana meluncurkan platform e-commerce. 

Baca Juga

"Potensi wakaf yang luar biasa harus kita kembangkan. Kita harus sesuaikan pula dengan perkembangan zaman," ujar CEO Sinergi Foundation, Asep Irawan, kepada Republika.co.id usai mengisi Seminar Bank Aset Wakaf di Jakarta, Jumat, (15/3).  

Dia melanjutkan, banyak pihak telah memanfaatkan era digital. Atas dasar itu, lembaganya turut bersinergi untuk mengeluarkan platform digital.  

"Kami sedang siapkan platform yang diharapkan bisa seperti Bukalapak, Tokopedia, dan lainnya," kata Asep. 

Sayangnya Asep masih enggan menuturkan lebih detail mengenai platform tersebut. Dia berharap, terobosan itu bisa diluncurkan sebelum bulan Ramadhan tahun ini.  

Investasi atau modal untuk membangun platform itu menggunakan dana wakaf. Kemudian hasilnya nanti disalurkan ke maufuq'alaih atau penerima manfaat wakaf lewat berbagai program sosial yang dimiliki Sinergi Foundation.   

Dia menyebutkan Sinergi Foundation telah memiliki beberapa program sosial di antaranya pendidikan gratis untuk semua kalangan. 

Kebutuhan anggarannya di tahun ketujuh nanti sebesar Rp 3,5 miliar. Saat ini  masuk tahun kedua, sehingga kebutuhan anggarannya sekitar Rp 900 juta.  

"Semua program kita ditopang dari hasil usaha wakaf. Kita punya beberapa usaha baik di bidang kuliner seperti Rumah Makan Ampera, lalu properti syariah, dan lainnya," jelas Asep.  

Dirinya menjelaskan, dana wakaf boleh digunakan untuk usaha. Sepanjang usahanya berhasil syariah, tidak bertentangan dengan Islam, serta seluruh keuntungannya dimanfaatkan oleh para mauquf'alaih.  

Hanya saja dia tidak memungkiri, saat ini belum banyak lembaga nazhir yang bisa mengelola wakaf produktif seperti itu. 

"Memang di Indonesia ini, paradigma masyarakat tentang wakaf produktif masih kecil. Mereka kebanyakan mindset-nya, dana wakaf digunakan untuk sosial seperti pembangunan masjid," katanya. 

Maka, lanjutnya, perlu ada edukasi supaya masyarakat lebih paham kalau dana wakaf tidak harus digunakan untuk pembangunan masjid. Melainkan bisa dipakai untuk mendirikan usaha apa pun sepanjang bersifat syariah. 

"Kalau kita berbisnia dari modal dana wakaf, multiplier efeknya luar biasa. Contoh, Rumah Makan Ampera memiliki 37 karyawan, belum lagi bicara supplier. Itu puluhan ribu orang bisa terlibat dalam bisnis tersebut," tegas Asep. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA