Rabu 26 Dec 2018 12:21 WIB

Baznas Temukan 60 Korban Tsunami Mengungsi di Bukit

Mereka tinggal di rumah yang terbuat dari bilik dan beralas tanah.

Rep: Andrian Saputra/Novita Intan/ Red: Gita Amanda
Tim relawan Baznas membantu korban bencana tsunami di Pendeglang
Foto: Baznas
Tim relawan Baznas membantu korban bencana tsunami di Pendeglang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menemukan 60 korban tsunami tinggal di atas bukit di Dusun Lebak Apus, Kelurahan Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten. Mereka mengungsi dalam kondisi yang memprihatinkan.

Para pengungsi datang dari dusun di bawahnya untuk mencari tempat lebih tinggi karena takut air naik kembali. “Para pengungsi ini tinggal di rumah-rumah penduduk asli dengan kondisi yang memprihatinkan. Rumah-rumah mereka hanya terbuat dari bilik dan beralas tanah, sementara hujan dan gerimis terus  mengguyur,” kata Komandan Lapangan Baznas Tanggap Bencana, Dede Nurjaman dalam siaran pers yang  diterima Republika.co.id pada Rabu (26/12).

Dede menjelaskan dengan kondisi yang terbatas, mereka membutuhkan makananan, obat-obatan, selimut, alas tidur dan pakaian layak pakai. Kata dia belum tersentuhnya kampung tersebut karena minimnya informasi dan akses menuju ke lokasi yang sulit ditempuh. Selain itu jalan perbukitan sempit ditambah tekstur tanah licin karena terus menerus diguyur hujan.

“Tim menempuh perjalanan sekitar satu jam hingga ke lokasi dengan kondisi jalan naik turun bukit dan sangat licin,” katanya.

Dede mengatakan, awalnya tim Baznas membantu kampung di kaki bukit ini namun naluri petugas kemanusiaan membuat mereka menuju ke arah Lebak Apus. “Saya awalnya lihat ada warga yang naik ke bukit dengan menggendong sekarung pakaian. Lalu kami menyusuri jalan menuju bukit itu dan betul di sana ada 60 warga mengungsi dan kondisinya memprihatinkan,” kata Dede.

Masja’i (55 tahun), salah satu pengungsi hingga saat ini belum mendapatkan penanganan medis untuk mengobati luka-luka yang didapatnya saat tsunami menerjang. Padahal Masja'i merasakan sesak di dadanya. Selama tiga hari ia hanya tergolek di atas tempat tidur, belum mampu melakukan aktivitas apapun. Apalagi jika ingat isteri dan anak perempuannya meninggal akibat peristiwa ini, rumah tempat tinggalnyapun sudah tak bersisa.

Masja'i mengisahkan, tsunami tiba-tiba datang menghantam rumahnya, saat ia dan keluarganya sedang berkumpul di rumah. Usai terbawa arus, jenazah istrinya ditemukan di tepi pantai, sementara anak perempuannya menyusul ditemukan di tumpukan sampah yang menyangkut di pohon kelapa.

Jenazah anak Masja'i sempat diantar oleh tim Baznas Tanggap Bencana (BTB) dengan tandu berjalan kaki ke atas bukit itu. Beberapa kali tergelincir karena kondisi jalanan tanah yang licin, akhirnya tim sampai ke tempat pengungsian Masja’i.

“Buka Pak, saya kuat saya kuat. Saya mau lihat wajah anak saya,” kata Deden menirukan Masja’i yang memohon kepada Tim BTB untuk membuka kantong jenazah.

Sejak Selasa (25/12) sore, Baznas menyiapkan dapur umum di kawasan kaki bukit sekitar dua kilometer dari lokasi pengungsian. Dari dapur umum ini makanan untuk para pengungsi nantinya akan didistribusikan. Baznas mengerahkan Tim BTB dan Tim Layanan Aktif Baznas untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar pengungsi di kawasan ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement