Jumat 12 Oct 2018 20:04 WIB

Demi Bantu Korban Gempa, Bocah itu Rela Jualan Puding

Hasil jualannya didonasikan untuk korban gempa Lombok dan Palu melalui LAZ Al Azhar.

Ranu saat berjualan di Sunmor, seputaran kampus UGM, Yogyakarta.
Foto: Dok LAZ Al Azhar
Ranu saat berjualan di Sunmor, seputaran kampus UGM, Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Untuk peduli dengan penderitaan orang lain tidak harus menunggu dewasa. Bocah kecil pun bisa. Ranu Belizal Noer contohnya. Umurnya baru 8 tahun dan masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar.

Putra pasangan Noer Choliq dan Vina Mardiana, yang tinggal di Dusun Semoyo, Berbah, Sleman,  Yogyakarta ini memang berbeda dengan bocah kecil kebanyakan. Jiwa berbagi dan kepeduliannya kepada penderitaan orang lain sangat kuat melekat. Saat anak seusianya sibuk bermain, dia malah sibuk berjualan puding untuk didonasikan kepada korban gempa Lombok dan Palu. Donasi tersebut disalurkan melalui LAZ Al Azhar.

Siaran pers LAZ Al Azhar yang diterima Republika.co.id, Jumat (12/10) menyebutkan,  sehabis sekolah, Ranu kecil menjajakan puding di sekitar rumah dan kampungnya. Tanpa malu dan canggung, bahkan dia sangat bersemangat menenteng rantang berisi  puding.

 

Khusus hari Ahad,  bocah kelahiran 19 Agustus 2010 itu berjualan di Sunmor seputaran kampus UGM. Ia didampingi ayah dan ibunya.  Saat ditanya mengapa mau berjualan, anak yang juga suka menggambar mural itu menjawab, “Saya mau membantu orang lain.”

 

“Saya tidak pernah menyuruh dia jualan, itu kemauan dia sendiri,” kata Noer Choliq, ayah Ranu ketika ditemui di rumahnya yang sederhana namun bersahaja. Bapak dua putra yang saat ini menjadi pegawai honorer di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta itu pun bercerita.

photo
Ranu dan keluarganya.

Ide awal jualan puding untuk donasi berasal dari istrinya, Vina yang sehari-hari sebagai ibu rumah tangga dan merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu untuk membantu para korban gempa di Lombok. Pilihan untuk jualan puding juga bukan karena dia pandai memasak, “Saya belajar masak puding pun dari youtube,” kenang wanita asal Pekalongan itu.

 

Gayung pun bersambut, keinginan untuk jualan puding disampaikan kepada Noer Choliq, suaminya. Sarjana Geografi UGM, yang juga beberapa kali menjadi relawan bencana itu menyambut gembira ide sang istri. Tak disangka, si kecil Ranu juga semangat untuk membantu berjualan. “Nanti aku bantu jualan, Bu,” kata Vina menirukan perkataan Ranu.

“Saat itulah kami menargetkan 1.000 puding untuk donasi Lombok,” tambah wanita berhijab itu. “Walaupun sempet juga pesimis, namun seiring dengan berjalannya waktu, 1.000 cup puding akhirnya tercapai juga,” tuturnya.

 

Hasil penjualan 1.000 puding saat ini telah didonasikan untuk korban gempa lombok melalui LAZ Al Azhar. Menurut Suryamin, koordinator Tim Formula LAZ Al Azhar,  donasi yang diberikan keluarga Ranu sudah dibelikan water toren.

“Kami sangat berterima kasih dan terharu atas donasi dari Ranu.  Ini contoh yang baik bagi anak-anak lain di Indonesia untuk senantiasa peduli dengan penderitaan sesama,” kata pria bertubuh subur itu bersemangat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement