Kamis 14 Dec 2017 14:50 WIB

Dompet Dhuafa Optimalkan Wakaf Uang

Rep: Novita Intan/ Red: Gita Amanda
Tradisi wakaf (ilustrasi).
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Tradisi wakaf (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dompet Dhuafa meluncurkan Gerakan Sejuta Wakaf. Sebuah gerakan untuk memaksimalkan potensi wakaf yang sangat besar di Indonesia.

Ketua Yayasan Dompet Dhuafa, Ismail A Said mengatakan saat ini sekitar 450 ribu titik lahan wakaf dengan luas sekira 3,3 miliar meter persegi. Jika dioptimalkan, potensi wakaf ini bisa menjadi instrumen pembiayaan alternatif yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat.

"Jika demikian adanya, luas aset wakaf yang tersebar di 366.595 lokasi itu merupakan harta wakaf terbesar di dunia," ujarnya saat acara Indonesia Wakaf Summit 2017 di Grand Sahid Jakarta, Kamis (14/12).

Namun dari sekian banyak aset wakaf itu, sebagian besarnya hanya dimanfaatkan sebagai fasilitas sosial. Padahal, wakaf dapat dioptimalkan fungsi dan kebermanfaatannya sehingga bisa memberikan keuntungan untuk masyarakat banyak.

"Terlebih, banyak di antara aset itu yang berada di lokasi strategis, sehingga sebenarnya bisa dimaksimaikan nilai ekonominya," tambahnya.

Selain wakaf berupa aset lahan, Indonesia juga memiIiki potensi wakaf uang yang juga sangat besar. Berdasarkan penghitungan Badan Wakaf Indonesia (BWI), potensi wakaf uang di Indonesia mencapai Rp 180 triliun.

"Jika potensi ini mampu dikelola dan diberdayakan secara profesional, akan sangat membantu daiam mensejahterakan ekonomi umat, memenuhi hak-hak masyarakat, serta mengurangi penderitaan masyarakat," ucapnya.

Ismail menegaskan, wakaf uang sebenarnya bukan tujuan akhir namun sebagai tangga awal untuk mengelola aset produktif. Menurutnya, tantangan utama dalam mengelola dan memproduktifkan aset wakaf yang berupa lahan selama ini adalah ketiadaan uang untuk membiayainya.

"Untuk itu, wakaf uang bisa digunakan untuk mengubah IahanIahan wakaf yang tadinya 'tidur' itu menjadi aset yang produktif," tambahnya.

Sementara itu, Direktur Dompet Dhuafa Filantropi, Imam Ruiyawan menambahkan wakaf uang bisa dioptimalkan dengan mengubah lahan yang ada menjadi aset produktif. Aset-aset ini dikelola untuk menghasilkan keuntungan.

Jadi selain menguntungkan pelaku bisnis, aset wakaf produktif ini akan menghasilkan dana-dana untuk kegiatan sosial yang tidak pernah putus. Imam menambahkan, pengalaman Dompet Dhuafa selama ini menunjukkan, aset wakaf yang dikelola secara professional dapat menghasilkan keuntungan. Pada 2016 lalu, aset wakaf produktif Dompet Dhuafa berhasil membukukan keuntungan sebesar Rp 2 miliar.

"Keuntungan ini disalurkan kepada orang miskin melalui program program Dompet Dhuafa," jelasnya.

Saat ini beberapa aset wakaf yang dikelola Dompet Dhuafa meliputi berbagal sektor, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga kesehatan. Dompet Dhuafa memiliki hospital network berbasis wakaf seperti Rumah Sakit (RS) Rumah Sehat Terpadu (RST) Dompet Dhuafa, Parung, Jawa Barat; RS AKA Sribhawono, Lampung Timur, Lampung; RS lbu Anak As-Sayyidah, Jakarta Timur; RS. RST Lancang Kuning, Pekanbaru, Riau; dan RS. Mata Ahmad Wardi, Serang, Banten.

Di sektor pendidikan ada Sekolah Islam Al-Syukro Universal, Ciputat, Tangerang, Banten; Sekolah SMART Semen Cibinong, Bogor, Jawa Barat dan Khadijah Learning Center (KLC), Tangerang, Banten. Untuk sektor ekonomi terdiri dari agroindustri kebun nanas & buah naga, Subang, Jawa Barat; Mini Market Daya Mart & Toko Buah Segar De Fresh; DD Water, Bogor, Jawa Barat.

Untuk penghimpunan wakaf, Wakaf Dompet Dhuafa telah menjalin kerja sama dengan beberapa perbankan syariah di Indonesia yang masuk dalam LKSPWU (Lembaga Keuangan Syanah Pengelolaan Wakaf Uang). Dompet Dhuafa juga menggandeng sejumlah e-commerce untuk memudahkan wakaf.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement