Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Uri Davis, Mualaf Pejuang Palestina

Ahad 12 May 2019 14:16 WIB

Red: Budi Raharjo

Bendera Palestina

Bendera Palestina

Foto: Reuters
Pemerintah Palestina mengenal Uri atas pengorbanannya yang besar menegakkan HAM.

Masuk Islam

Dua tahun setelah itu, Uri masih berupaya untuk menjadi kepala rumah tangga. Kali ini, dia memilih jalan yang berbeda, yaitu meninggalkan tradisi keagamaan yang sudah dijalaninya sejak kecil. Ya, dia meninggalkan keyakinan Yahudi yang sudah puluhan tahun dianutnya dan beralih ke Islam.

Bertempat di pengadilan agama Islam di Baka el-Garbiye, dia bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Resmilah dia menjadi seorang Muslim. "Saya memeluk Islam dan mengedepankan semangat toleransi untuk membangun kebersamaan," ujarnya.

Kemudian menikahi seorang wanita Palestina bernama Miyassar. Wanita aktivis Fatah itulah yang kini mewarnai kehidupannya. Namun, pernikahan ini membuatnya menghadapi berbagai tantangan. Dia harus berjuang dan berhadapan dengan Israel.

Setelah bergabung dengan Fatah, Uri memulai periode panjang pengasingan atas saran pengacaranya untuk menghindari jeratan hukum negeri Yahudi itu. Dia mengajar di sejumlah universitas di Inggris, termasuk Bradford, Exeter, dan Durham. Di sana, dia menghabiskan waktunya untuk penelitian dan studi akademik.

Pengacara Uri, Tawfiq Jabarin, menjelaskan bahwa Pemerintah Palestina mengenal Uri atas pengorbanannya yang besar untuk menegakkan hak asasi manusia. Dia mencatat, pernikahan keduanya adalah perkembangan sosial yang mengagumkan.
Sebab, keduanya berasal dari dua komunitas yang selama ini saling ber seberangan.

Jabarin mengatakan, pernikahannya dilakukan dengan sederhana sesuai adat Palestina. Sekitar 50 tamu menghadiri pesta pernikahan tersebut. Mereka menjadi saksi keseriusan Uri dan Miyassar menjalin asmara.

Dari tempatnya mengajar, Uri melancarkan pendapatnya, mengkritik Israel yang selama ini telah membantai masyarakat Palestina. Yang menjadi harapannya adalah kerukunan dan kebersamaan di negeri yang dulu dibebaskan Shalahuddin al-Ayyubi tersebut. Sehingga, perdamaian dunia menjadi kenyataan. (ed:erdy nasrul)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA