Wednesday, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 February 2019

Wednesday, 15 Jumadil Akhir 1440 / 20 February 2019

Menjadi Mualaf

Sabtu 09 Feb 2019 09:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Ketua PITI JAKARTA, Syarief Tanudjaja.

Ketua PITI JAKARTA, Syarief Tanudjaja.

Foto: ROL/Fian Firatmaja
ada banyak faktor penyebab masyarakat Tionghoa maupun keturunan menjadi mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Himpunan Bina Muallaf Indonesia (HBMI) Syarif S Tanudjaja mengatakan, pertumbuhan Tionghoa yang memeluk Islam di Indonesia cukup bagus. Namun, dia belum bisa memastikan persentase secara jumlah.

"Kalau pertumbuhan sebagai tolok ukur sementara di Masjid Lautze dari satu sisi data saja karena di tempat lain pasti banyak hampir seminggu dua-tiga kali ada yang bersyahadat," ujarnya kepada Republika.co.id, belum lama ini.

Meski demikian, Syarif tak memungkiri ada persoalan yang dihadapai para mualaf dari kalangan Tionghoa. Menurut Syarif, pembinaan untuk mereka masih kurang. Fasilitas yang dibutuhkan untuk proses pembinaan bagi mualaf Tionghoa belum ada. Dia pun menjelaskan, HBMI ingin membuat satu program untuk mendidik mualaf Tionghoa dalam satu tempat.

Syarif mengungkapkan, ada banyak faktor penyebab masyarakat Tionghoa maupun keturunan menjadi mualaf. Pernikahan adalah penyebab paling banyak. "Ada sih yang belajar sendiri, tapi itu relatif sedikit," kata Syarif.

Tokoh komunitas Tionghoa, Sumartono Hadinoto, menilai tumbuhnya Muslim Tionghoa di Indonesia tidak menjadi persoalan bagi warga Tionghoa. Mereka menerima pindah agama apa pun. Peraih penghargaan Global Bussiness and Interfaith Peace Award 2018 dari PBB ini menilai, semua agama pada dasarnya mengajarkan sesuatu yang baik.

Menurut Sumartono, meme luk agama adalah ranah privat se seorang. Dia berpendapat, me reka memeluk agama tertentu apabila menemukan kenyamanan di dalamnya. "Kalau merasa ti dak nyaman, dia pasti pindah," kata Sumartono.

Sumartono menegaskan, tidak ada yang berubah dalam hubung an sesama Tionghoa ketika pindah agama. Pada dasarnya, lanjut dia, saling menghormati satu sa ma lain atas pilihannya adalah kun ci yang perlu dipegang ma sing-masing orang.

Sumartono mengungkapkan, banyak Muslim Tionghoa yang tetap merayakan Imlek. Mereka kumpul keluarga sambil makan bersama. Hal tersebut juga terjadi di Tionghoa, di mana masyarakat Islam tetap merayakan Imlek karena bagi orang Tionghoa Imlek adalah adalah tradisi leluhur.

"Kami ikut Imlekan enggak masalah. Cuma ada aturan enggak boleh makan ini, ya, enggak makan. Tapi, kita sebagai saudara, kita punya hak pribadi untuk memeluk agama apa pun," tutur dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA