Selasa 04 Sep 2018 16:16 WIB

Laurence: Islam Agama yang Indah

Bagi Laurence, Islam sangatlah sesuai dengan keyakinannya.

Rep: c02/ Red: Agung Sasongko
Alquran
Foto: Republika/Tahta Aidilla
Alquran

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang tua mana yang tak merasa bahagia atas kelahiran anak mereka? Perasaan itulah yang membuncah di dalam hati Laurence Brown saat bayi perempuan kecilnya terlahir. Kebahagiaan Laurence luntur seketika dan berubah menjadi ketakutan karena bayi mungilnya divonis mengalami kelainan di arteri besar jantungnya.

Akibat kelainan itu, jantung Hanna-nama anak perempuan Laurence itu-tak bisa memasok oksigen ke seluruh tubuh mungilnya. Akibatnya, tubuh bagian bawah sang gadis kecil terlihat membiru, seolah mati.

Dokter pun segera membawa Hanna ke ruang rawat intensif untuk menanganinya lebih lanjut. Laurence menyadari, penyakit yang diderita anaknya adalah masalah kecil yang banyak membuat orang meninggal. Dan, mereka meninggal dengan cara yang tidak menyenangkan. Mereka harus menjalani operasi dan mengonsumsi obat. Lalu, beberapa tahun kemudian dioperasi lagi dan terus begitu sampai ajal menjemput.

Menyaksikan kondisi putrinya yang lemah tak berdaya itu membuat lulusan tiga perguruan tinggi terkemuka, Cornell University, Brown Medical School, dan George Washington University itu tidak bisa mengontrol diri. Untuk pertama kalian, Laurence tak mampu menyelesaikan kesulitan yang dihadapinya.

Sebelumnya, Laurence selalu berupaya mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Ketika  membutuhkan lebih banyak uang, ia akan bekerja lebih keras agar memperoleh lebih banyak uang. Kali itu, ia benar-benar terpojok. Tak mampu berbuat apa pun untuk menyelamatkan buah hatinya.

"Untuk pertama kalinya dalam hidup saya membutuhkan pertolongan," ujar Laurence dalam The Deen Show, sebuah talkshow yang mengisahkan perjalanan hidup para mualaf. Laurance yang atheis alias tak mempercayai Tuhan baru tersadar. Ia membutuhkan bantuan Dia yang Maha Agung.

Laurence dibesarkan tanpa agama. Dia tidak pernah mengenal Tuhan. Kejadian ini justru membuatnya berkenalan dengan sosok yang dipercayai menjadi Pencipta. Melihat kondisi anaknya, ia melangkahkan kaki untuk pertama kalinya ke dalam ruang doa.

Dengan cara seorang atheis, ia berdoa kepada Tuhan. "Tuhan, jika Engkau memang ada, maka selamatkanlah jiwaku-jika aku mempunyai jiwa. Aku butuh pertolongan-Mu." Ia lalu bernazar, "Apabila Tuhan dapat menyelamatkan anak gadisnya dan menuntunnya pada agama yang paling Dia senangi, maka ia akan menjalankan agama tersebut." Janji yang menurutnya cukup sederhana.

Tuhan pun mendengarkan doanya. Tuhan menyelamatkan anaknya dari kelainan jantung yang dideritanya. Hanna tidak harus dioperasi dan tidak lagi mengkonsumsi obat-obatan. Ia dapat tumbuh dewasa seperti anak-anak seumurnya.

Tentulah Laurence amat bahagia. Tim medis pun memberikan penjelasan yang logis bagi Laurence dan diri mereka sendiri mengenai kesembuhan Hanna. Tapi, bagi Laurence tidak ada penjelasan yang lebih logis daripada kuasa Tuhan atas kesembuhan Hanna.

Tuhan telah melaksanakan janjinya. Maka, Laurence pun harus melaksanakan janjinya, yaitu menjalankan agama Tuhan. Pertama, ia mempelajari Yahudi, namun kemudian ia berpindah ke Kristen. "Saya pikir, saya menemukannya di dalam Kristen," katanya ketika menceritakan pengalaman spiritualnya dalam mencari kebenaran.

Selama bertahun-tahun Laurence mencari kebenaran di dalam Kristen. Ia mengikuti berbagai jenis kebaktian, sekte, dan gereja Kristen. Ia ikut serta dalam sekte Quaker (perkumpulan agama sahabat, muncul di Inggris pada abad ke-17), Mormon, Katolik Roma, Yunani Ortodoks, dan masih banyak lagi. Namun, tidak satu pun yang dapat memuaskan pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal di hatinya.

Pensiunan perwira Angkatan Udara Amerika Serikat dengan pangkat mayor ini sering berdiskusi dengan pendeta mengenai beberapa hal tentang Kristen, namun pendeta tersebut tidak memberinya jawaban yang memuaskan. "Saya menyukai beberapa ajaran di dalam Kristen, tapi ada juga beberapa yang saya tidak mengerti dan mereka tidak bisa menjawabnya."

Salah satu pertanyaan yang diajukannya kepada pendeta adalah mengenai fondasi agama itu sendiri, seperti halnya trinitas. Setelah menelusuri Alkitab, ia tidak menemukan pernyataan yang mengatakan konsep trinitas. Tuhan, seperti yang tertulis dalam Perjanjian Lama, adalah satu.  Ketika ia membicarakan hal itu, pendetanya malah berkata, "Oh itu, saya lupa." Laurence sangat terkejut. Bagaimana mungkin hal sepenting itu dan menjadi landasan dalam agama dilupakan begitu saja.

Hal lain yang mengganggunya adalah keberadaan Yesus Kristus sebagai seorang Anak Tuhan. Penulis buku MisGod'ed, God'ed dan The Eighth Scroll ini percaya bahwa Yesus adalah seorang manusia yang diutus sebagai nabi bagi umatnya. "Saya meminta kepada pendeta agar mereka membuktikan kepada saya bahwa Yesus adalah Tuhan atau anak Tuhan," cetus Laurence.

Sebanyak 88 kali Yesus menyebut dirinya sebagai Anak Manusia di dalam Alkitab. Laurence tidak menemukan satu kalimat pun di dalam Alkitab yang menyatakan Yesus mengklaim dirinya sebagai anak Tuhan. Yesus yang merupakan pendeta Yahudi itu tidak pernah mengajarkan kepada setiap umatnya untuk menanggung dosa-dosa yang dilakukan Adam.

Setiap ayah tidak menanggung dosa anaknya dan setiap anak tidak menanggung dosa ayahnya. Hal inilah yang selama ini menjadi pedoman setiap umat Kristen yang diajarkan oleh Paulus. Namun, kenyataannya Yesus tidak pernah mengajarkan hal itu. "Setiap orang menanggung dosanya masing-masing," kata Laurence mengutip dari Alkitab.

Karena ada dua ajaran yang ditemukannya, ajaran Yesus dan Paulus, Laurence harus membuat pilihan. Ia lebih nyaman dengan ajaran Yesus. Ia pun mengikuti ajaran Yesus sang Nabi Allah. Laurence berhenti mempelajari Kristen karena agama tersebut tidak sesuai dengan keyakinannya.

Ia mempercayai Yesus adalah seorang Nabi, alih-alih seorang anak Tuhan. Semakin mempelajari Kristen dan berusaha untuk menjadi Kristiani yang taat, kian ia menyadari agama ini tidaklah cocok. Tidak satu sekte pun yang merepresentasikan keyakinannya, sampai ia menemukan Islam.

Ia menemukan dalam Alkitab Yesus berkata akan ada Nabi terakhir setelah dirinya. Muhammad datang membawa agama yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya, yaitu Islam. Dan, bagi Laurence Islam sangatlah sesuai dengan keyakinan yang ia miliki. Ia pun mulai membaca Alquran dan buku-buku tentang Islam.

Dan, setelah itu tidak ada lagi keraguan baginya untuk tidak memeluk Islam. "Buku-buku tersebut menjelaskan dengan jelas mengenai keyakinan yang saya anut. Dan, karena itulah saya memilih Islam," ujarnya bahagia.

Islam Agama yang Indah

Ketika dua orang mengajarkan dua hal yang saling bertentangan, seseorang harus memilih yang mana yang harus diikuti. Laurence Brown lebih mempercayai Yesus dibandingkan Paulus. "Menurut Yesus Tuhan adalah satu, sedangkan Paulus menganggap Tuhan itu tiga," ujar Laurence. Yesus juga mengatakan bahwa Perjanjian Lama dapat dipakai, sementara Paulus mengatakan sebaliknya. Hal inilah yang membuat Laurence memutuskan untuk mempercayai Yesus.

Laurence tinggal di lingkungan yang masyarakatnya banyak menganut Kristen. Mereka sangat dekat dengan kekristenan, namun tidak benar-benar memahami tentang keimanan itu sendiri dan mereka tidak benar-benar menganut keyakinan tersebut.

Kebanyakan masyarakat Amerika memiliki keyakinan terhadap agama. Namun, mereka tidak benar-benar bisa menerima agama yang diajarkan di gereja tersebut secara utuh. Mereka sangat beruntung karena mempercayai adanya Tuhan dan nabi-nabinya. Mereka dapat melihat kebenaran di dalam pengajaran Alkitab.

Namun, ketika mereka sampai kepada pengajaran tentang keimanan, satu dua fakta yang diajarkan mungkin masih dapat diterima. Begitu hal lain tidak dapat mereka terima, lalu mulailah mereka mencari kebenaran yang tidak dapat mereka temukan di dalam Kristen. "Dan, itulah yang saya lakukan ketika akhirnya saya menemukannya di dalam Islam," katanya dalam acara The Deen Show.

Ketika mencari kebenaran di dalam Kristen, ia mempercayai nabi-nabi seperti Musa dan Yesus yang mengajarkan kebenaran kepada umat-umat mereka. Musa berkata pada umatnya bahwa akan ada tiga nabi yang harus diikuti oleh mereka setelah dirinya. Yohanes Pembaptis (Yahya) adalah yang pertama, lalu Yesus dihitung sebagai yang kedua. Yesus pun mengatakan akan ada nabi berikutnya setelah dirinya, yang merupakan nabi terakhir.

Laurence bertanya-tanya, siapakah satu nabi lain yang dibicarakan oleh Musa dan Yesus ini? Ketika mempelajari Islam, ia menemukan jawabannya. Muhammad SAW adalah nabi yang dikatakan oleh kedua nabi sebelumnya. Ia akan membawa kesempurnaan bagi agama yang selama ini diturunkan Musa Yesus kepada umat-umatnya.

Di Barat banyak sekali orang-orang yang berkomentar miring tentang Islam. Islam dipandang sebagai agama teroris yang akan menghancurkan sekelompok masyarakat. "Akan tetapi, jika kita mempelajari Islam yang sebenarnya secara mendalam, lalu hidup di antara Muslim lainnya, kita akan menemukan Islam sebagai agama yang indah," tambahnya.

Banyak orang jahat di dunia ini, ujar Laurence, namun yang sebenarnya adalah setiap orang menginginkan kebaikan. Setiap orang ingin tidur dengan tenang setiap malam, bangun setiap pagi dengan keyakinan mereka akan melakukan kegiatan sehari-hari tanpa ketakutan, dan mereka ingin memiliki hidup normal.

 

"Kehidupan dalam Islam adalah kehidupan dalam kesopanan, kesederhanaan, dan kerendahanhatian. Dan, menurut saya begitulah seharusnya setiap manusia memaknai hidupnya."

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement