Kamis 19 Jul 2018 19:29 WIB

Maryam Jameelah Berjuang Lewat Aksara

Sejak bersyahadat, Maryam tampil sebagai pembela umat Islam.

Mualaf
Foto: Onislam.net
Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebudayaan Islam berkembang pesat dalam sumbangsihnya untuk peradaban dunia. Salah satunya adalah kekayaan literasi. Kemajuan syair dan karya tulis di dunia Islam tak hanya didominasi oleh kaum lelaki saja.

Adalah Maryam Jameelah yang menjadi mercusuar wanita Islam lewat tulisan-tulisannya. Ia adalah penulis buku tentang budaya dan sejarah Islam. Maryam menghasilkan lebih dari 30 judul buku yang banyak mengulas Islam, terutama di Barat. Buku-bukunya juga diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa di antaranya Urdu, Persia, Turki, Bengali, dan Indonesia.

Maryam lahir pada 23 Mei 1934. Maryam sendiri adalah seorang mualaf. Maryam dilahirkan dengan nama asli Margret Marcus di New Rochelle, New York. Dia lahir di tengah-tengah keluarga Yahudi. Sebelum memeluk Islam, meski dia beragam Yahudi, Maryam tertarik dalam mempelajari berbagai agama. Maryam lahir dari orang tua keturunan Yahudi Jerman. Dia menghabiskan masa mudanya di Westchester.

Saat masa kanak-kanak Maryam memiliki masalah dengan psikologisnya. Akibatnya, dia sulit bergaul dengan anak-anak sebayanya. Lingkungan juga tidak mendukung untuk Maryam berkembang. Tetapi, ibunya menggambarkan dia anak yang sangat cerdas namun mudah gugup, sensitif, perasa, dan banyak menuntut.

Sesuai dengan ketertarikannya dengan banyak agama, Maryam kecil juga tertarik dengan banyak budaya dunia. Namun, ia memiliki minat khusus terhadap budaya-budaya di Asia, terutama Jazirah Arab. Ia mengenal dan mempelajari tentang konflik Palestina. Sesuatu yang tak lazim, mengingat mayoritas lingkungannya mendukung Israel. Tak jarang Maryam beradu argumen karena pilihannya tersebut.

Semakin mendalami budaya Arab, semakin ia jatuh cinta dan menaruh simpati terhadap penderitaan orang-orang Palestina. Sebuah sumber mengatakan, Maryam mulai mengoleksi foto-foto penderitaan penduduk Palestina sejak masih muda.

Setelah lulus SMA Maryam memilih melanjutkan pendidikan di Universitas Rochester. Namun, akibat gangguan psikis, Maryam memutuskan tak melanjutkan kuliah.

Pada 1953 dia kembali mencoba kuliah di Universitas New York. Di kampus tersebut dia mempelajari berbagai agama, seperti Yahudi Baru, Yahudi Ortodoks, Budaya Etika Protestan, dan kepercayaan Baha’i. Namun, dia tidak menemukan kepuasan dari agama-agama itu.

Pada musim panas 1953, dia kembali mengalami gangguan saraf dan merasa putus asa serta lelah meneruskan kuliah. Namun, semangatnya untuk belajar berbagai agama tak mengendurkannya. Hinnga akhirnya ia juga mempelajari Islam dan membaca Alquran.

Dia mempelajari Islam juga terinspirasi dari Muhammad Asad. Dalam bukunya The Road to Mecca, Asad menceritakan perjalanan religinya yang hijrah dari Yahudi ke Islam. Mulai mengenal Islam, Maryam memutuskan mengambil kursus di kampus.

Kursus ini khusus membahas pengaruh Yahudi dalam Islam. Kursus ini diajar oleh seorang rabi bernama Abraham Katsch. Anehnya, kursus tersebut malah membuat ketertarikan Maryam terhadap Islam semakin kuat.

Semangatnya mempelajari Islam sempat tersendat karena kesehatannya memburuk. Dua tahun skizofrenia melemahkan tubuhnya. Puncaknya tahun 1956 dia dikeluarkan dari universitas.

Setelah mulai membaik, Maryam memilih tinggal di White Plains pada 1959. Ketertarikannya dengan Islam terus berlanjut. Ia memutuskan untuk aktif di berbagai organisasi Islam. Ia pun melebarkan sayap dengan bergaul bersama pemimpin Islam dunia.

Maryam aktif menjalin korespondensi dengan pemimpin Jamaat Islami di Pakistan, Abul Ala al-Maududi. Hasil dari tukar pikiran dengan Maududi akhirnya memantapkan hatinya memeluk Islam. Pada 24 Mei 1961 dia pun memutuskan memeluk Islam dan menggunakan nama Maryam Jameelah. Setahun kemudian, Maududi mengundang Maryam ke Pakistan.

Ia akhirnya pindah domisili ke Pakistan dan menikah dengan Muhammad Yusuf Khan, salah satu pengurus Jamaat Islami. Dari pernikahannya, Maryam dikaruniai lima orang anak, dua laki-laki dan tiga perempuan.

Setelah menikah selama dua tahun, dia memutuskan tak hanya menjadi ibu rumah tangga. Dia mulai tampil sebagai pembela umat Muslim.

Perjuangan Maryam dituangkan dalam berbagai judul buku. Maryam mulai menulis novel pertamanya berjudul Ahmad Khalil :The Story of a Palestinian Refugee and His Family.

Novel tersebut mulai ditulisnya ketika berusia 12 tahun. Maryam tak hanya menuliskan kisah dalam novelnya, tetapi juga membuat sketsa dan gambar dengan pensil warna.

Dia pernah belajar menggambar pada musim gugur 1952 di Art Students League of New York. Hasil  karyanya dipamerkan di Pusat Galeri Seni Bahai Caravan Timur dan Barat. Namun, ketika pindah ke Pakistan dia tak lagi menggambar. Dia menulis dengan dukungan kaset audio dan video.

Maryam adalah penulis yang sangat produktif. Dia selalu berusaha mempertahankan nilai-nilai Islam. Dia sangat kritis terhadap sekulerisme dan materialisme.

Dia juga mempromosikan aturan jilbab dan tegas terhadap batas antara laki-laki dan wanita bukan muhrim. Aturan-aturan tersebut termasuk poligami adalah nash yang telah tertulis di Alquran. Kampanye ini ia lakukan untuk mempertahankan nilai-nilai Islam dari serbuan modernisme.

sumber : Dialog Jumat Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement